​Beratnya Menjadi Istri 

Ditulis oleh: Rufaida Fariq 

Sewaktu gadis dulu, ketika emosi-mu tidak stabil, saat kegalauan melanda hati, saat ada masalah dengan teman satu kosan, kamu masih bisa bertindak egois dan mengedepankan perasaanmu.
Kamu bisa pergi dari kosan (kabur ke tempat saudara atau tempat sahabat) untuk mententramkan jiwamu, kamu bisa curhat ke temen lain tentang perasaanmu agar menjadi tenang, kamu bahkan bisa melakukan apapun yang kamu bisa untuk menenangkan hatimu (tentu saja tanpa mendzolimi seorangpun). 
Karena kamu masih single. 
Alias yang kamu pikirkan hanyalah badan dan jiwamu.
Setelah berganti status menjadi istri, banyak yang akan berubah!
Ketika kamu ada masalah dengan teman hidupmu, kamu harus bisa menahan hawa nafsumu, ketika kamu ingin keluar sebentar dari rumah, ingin menonaktifkan segala macam komunikasi denganya, ketika egomu berkata biarkan dia khawatir terhadapmu, lakukan apapun, kamu tidak akan bisa! Mungkin kamu bisa (jika kamu benar benar orang egois), tapi kamu tidak boleh!
Kamu tidak boleh menceritakan masalahmu dengan mudahnya kepada siapapun! 
Siapapun! 
Karena masalah ini bukan seperti masalah dengan temen kos dulu.
Kamu tidak boleh membuatnya khawatir dengan putus komunikasi dan kabur begitu saja tanpa kabar, karena status kamu sekarang sudah double. 
Yang harus kamu urus dan perhatikan bukan hanya perasaan dan jiwamu saja, tetapi perasaan pasanganmu. Kamu tidak hanya memikirkan tentang dirimu, kamu harus pikirkan tentang dia juga.
Saat itulah terasa berat sebagai istri.
Itulah salah satu ujianya sebagai istri, disitu saatnya kita sadar bahwa surga itu memang tidak semudah itu didapat, gelar ‘istri sholehah’ pun bukan hal yang mudah diraih. 
Dulu, bahkan saat kita tidak perduli kepada diri kita, it’s okay,  tetapi sekarang jika kamu tidak peduli, maka akan ada yang sedih karena mengkhawatirkanmu dan kamu tidak boleh membuatnya khawatir, apalagi ketika kamu telah memiliki anak-anak. 
Saat awal menikah kita merasa senang karena telah menyempurnakan separuh agama, dan merasa setengahnya lagi kita akan dapatkan dengan mudah, ketika mendengar hadits tentang istri sholehah yang bisa memilih masuk surga lewat pintu mana saja kita merasa senang karena kita pikir dengan menikah, surga telah di depan mata.
[ Hadits nya sebagai berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا صلَّتِ المرأةُ خَمْسَها وصامتْ شهرَها وحصَّنتْ فرْجَها وأطاعت بعلَها دخَلتْ مِن أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شاءتْ
“Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulannya, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya nomor 4163) ]
Tetapi prakteknya sangat tidak mudah.
Memerangi hawa nafsu dan ego sendiri itu sulit, (terlebih di umur kita yang masih muda dan usia pernikahan yang masih dini).
Ketika ingin kerja dan suami tidak mengizinkan, kita harus memendam keinginan itu, bahkan ketika berkaitan dengan kedua orang tua, yang selama ini menjadi orang yang paling  penting di hidup kita saat masih single, kita harus merelakanya untuk mentaati lelaki yang bernamakan suami.
Jika urusan orang tua saja kita harus relakan, apalagi hanya urusan pribadi  ?
Ketika kita ingin bertemu sahabat lama dan suami tidak mengizinkan, saat itu status istri sholehah dipertaruhkan. Akankah kamu lulus atau gagal dan membangkang terhadap suami.
Apapun alasan suami kita harus terima, ya! meskipun kita dapat berdiskusi denganya, memberikan pendapat dengan cara halus, tetap saja keputusan akhir suami yang harus kita taati dan harus kita terima.
Disaat kita suka warna kuning dan ternyata suami tidak suka melihat kita memakai baju kuning dan menyuruh kita menggantinya, maka kita harus melawan perasaan kita untuk mengedepankan kesenangan suami.
Artinya, kita harus menukar apapun yang kita miliki sebelumnya untuk membuat suami ridha dan senang selama itu tidak melanggar aturan Allah. Karena saat menikah kita sudah berkomitmen untuk taat kepada dia karena Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
                                     
                                                فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Camkan selalu akan posisimu terhadapnya, sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu” [Dishahihkan oleh Syeikh albaniy dalam Silsilah Shahihah: 6/220]
Ketika kita ada masalah dengan suami dan tangan ini terasa gatal untuk menulis status di media sosial, hanya demi memuaskan keinginan kita dan merasa terhibur dengan komentar teman-teman. ya! sebatas menghibur, bukan menyelesaikan masalah kita, karena solusi itu kembali kepada kita, apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikanya ?
Saat itu, tegakah kamu menjadikan suamimu, orang nomor satu di hidupmu menjadi bahan lelucon orang-orang ? 
Relakah jika surgamu (suami) menjadi perbincangan orang  ?
Saat suami menjadi orang nomor satu dihidup kita, dan kenyataanya kita bukanlah orang nomor satu di hidup dia, karena ibunya, ayahnya, saudarinya telah menempati hatinya, saat itu kita merasa tidak terima karena kita menuntut agar menjadi orang terpenting di hatinya, saat itu kita harus melawan ego kita (lagi), karena Allah telah mewajibkan kita taat suami dan Ia mewajibkan suami taat kepada orang tuanya.
Sudah tidak asing lagi bagi kita sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
                                                                                                                                                                     لو كنتُ آمرًا أحدًا أن يسجُدَ لأحدٍ لأمرتُ المرأةَ أن تسجُدَ لزوجَها لما جعل اللهُ له علَيها من الحقِّ
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi suami atas mereka (para istri).” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Bani)
Sudah sangat jelas bahwa kedudukan suami itu sangat istimewa.
Kadang tanpa terasa kita termakan doktrin, bahwa wanita ketika menikah tidak merubah apapun dalam hidupnya, hanya bertambah teman hidup, tetapi dia bebas untuk melakukan apapun sesukanya dan suami tidak punya hak untuk melarang, menahan dll, berdalihkan hak asasi dan kebebasan.
Seorang istri yang taat suami seakan terkekang dalam penjara yang dinamakan ‘rumah’, ibu rumah tangga seakan wanita yang sengsara yang mimpinya terabaikan dan keinginanya menjadi tak penting lagi. 
Itu semua tidak benar, suami disamping menjadi Raja, ia adalah teman kita, tempat kita berbagi rasa, curhat, diskusi tentang mimpi, hobi, dan masih banyak lagi.  
Memang benar lelaki tidak akan setara dengan wanita dalam hal ini karena ia memang tercipta sebagai pemimpin dalam rumah tangga. 
Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman : 
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….” (Al-Baqarah: 228)
Jadi, mungkinkah surga bisa kita raih tanpa pengorbanan ?
Mungkinkah gelar istri solehah bisa kita dapatkan tanpa adanya perjuangan ?
Dengan memakai kerudung dan banyak ibadah tidak cukup untuk meraih gelar tersebut, dengan sering belajar agama tidak menjamin kita telah menjadi istri yang baik, juga sholehah. 
Itu semua (menutup aurat, beribadah, belajar agama) memang kewajiban seorang muslimah, dan menjadi sarana untuk mendapatkan gelar mulia itu.
Tetapi ketika kita telah meruntuhkan benteng egoisme dalam jiwa wanita kita, dan bersedia untuk menjaga dan menghormati pasangan kita, bersedia mentaatinya dan patuh akan semua yang dia perintahkan dan berusaha menjauhi apa yang dia tidak suka, maka semoga usaha kita yang tidak mudah itu pada akhirnya menghantarkan kita semua kepada surga Allah, 
hanya Ia yang dapat menentukan apakah kita telah lulus menjadi ‘istri sholehah’ ?
Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha dan berusaha sampai tidak ada kesempatan lagi untuk berusaha.
Selamat buat para istri yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seorang muslim, melayaninya dengan penuh kesabaran, menerima kekuranganya dengan tanpa mengeluh, menemaninya dalam kehidupan yang setiap harinya fitnah (godaan) semakin menyebar.
Selamat buat para istri yang telah bersusah payah mengubur keegoisan dan menjunjung tinggi suaminya, membelanya, menutupi aibnya, dan juga menjaganya dengan do’a.
Semoga yang kalian (kita) lakukan akan berbuah kebaikan yang banyak pada rumah tangga kalian, Allah akan ganti setiap usaha kalian dengan kesehatan untuk setiap anggota keluarga, keberkahan, kelancaran urusan, dan kedekatan kalian dan pasangan kepada Allah ta’ala, tak lupa pahala yang tanpa batas dan surga yang sangat luas.
Aamin ya Rabbal ‘alamin.💙
Catatan :
– Sebelum menikah posisi orang tua adalah diatas segalanya (setelah Allah), tetapi kita tidak hidup bersama orang tua seperti kita hidup bersama suami, maka dari itu pada tulisan diatas bercerita seakan ketika menjadi anak dapat berlaku egois dan tidak memperdulikan kekhawatiran orangtua. (semoga tidak disalahpahami) 🙂
– Tulisan diatas hanya berbicara tentang istri dan fokus kepada kewajibanya. tanpa menafikan kewajiban dan tugas suami terhadap istri, Tanggung jawab suami juga besar, oleh karena itu banyak yang harus seorang suami perhatikan dalam memimpin bahtera rumah tangganya.
– Tulisan diatas hanya menggambarkan sisi beratnya menjadi istri, agar para wanita dapat mempersiapkan segala sisi jika ingin melangkah kepada pernikahan, tanpa menafikan sisi positif dan kelebihan juga kebahagiaan yang akan didapat setelah menikah.
(Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizhahullah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s