Mungkin Saja

Mungkin saja sesak itu masih tersisa. Bagi setiap jiwa, begitu pun diri ini, pasti memiliki cara tersendiri dalam mengobati hati yang tersakiti. Bukan mudah. Jika mudah, maka sesak ini pasti sudah tak tersisa lagi. Akan tetapi, percaya saja, dengan waktu yang terus bergulir, mengalir bagaikan air yang tak henti- hentinya mengalir, maka sesak itu akan hilang nanti. Ya, nanti suatu saat. Entah nanti 1 tahun, 2 tahun, atau 3 tahun lagi. Bertahanlah saja wahai diri. Rasa sesak ini akan terhapuskan dan akan hilang tak tersisa.. **saya mulai bermonolog dengan diri.

Sebagaimana sebuah nasehat dari salah satu syaikh via ustadz Aan Candra Thalib hafidzahullahu ta’ala, yaitu bahwa kita semua pasti akan kembali. Dari nasehat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa semua hamba pasti akan kembali, maka setiap kesesakan di dunia tidak ada apa- apanya. Maka, bersabarlah. Bertahanlah dalam kebaikan dan kepatuhan kepada Allah ta’ala.

Berikut adalah untaian nasehat itu.

:: KARENA KITA AKAN KEMBALI ::

Syaikh Abdul Malik Al-Qasim mengisahkan, “Suatu hari Raja Suud Bin Abdul Aziz mengunjungi kediaman kakekku (Syaikh Abdurrahman Al Qasim). Sang raja kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, seraya berkata, “Wahai syaikh, kami akan membangunkan sebuah rumah yang layak untukmu sebagai tempat tinggal selain rumah ini”.
Syaikh menjawab, “Tidak perlu, aku telah membangun rumahku disuatu tempat. Dan saat ini aku hanya menunggu kapan waktuku pindah ke tempat itu. Sang Rajapun terdiam dan menitikkan air mata.”
Catatan :

Tempat yang dimaksud oleh syaikh Abdurrahman Al-Qasim adalah kampung akhirat.

 

Syaikh hanya menunggu waktu kepindahan, yaitu ajal yang menjadi dinding antara dirinya dengan apa yang dicita-citakannya. Begitulah kehidupan ulama rabbani, mereka meninggalkan kelezatan dunia demi cita-cita yang luhur dan demi menjaga kehormatan diri.
Lalu Siapakah Syaikh Abdurrahman Al-Qasim..? 
Tak banyak yang tahu bahwa Syaikh Abdurrahman Al Qasim (1312-1392 H) merupakan sosok ulama rabbani yang telah banyak menghasilkan karya tulis dalam berbagai bidang ilmu agama. Beliaulah orang yang paling berjasa dalam proses pengumpulan dan penyusunan Majmu Fatawa atau kumpulan risalah dan fatwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Bersama anaknya Syaikh Muhammad Abdurrahman dan Syaikh Hammad Al-Anshary, yang kini dicetak dalam 37 jilid besar.
Proses yang memakan waktu 32 tahun itu dan melalui kunjungan ke berbagai penjuru negeri kini dinikmati oleh penuntut ilmu dan ulama diberbagai belahan dunia.

Rahimahullah rahmatan waasian
Kisah diatas juga sebagai tamparan untuk kita yang mungkin lebih fokus pada usaha membangun atau memperbaiki tempat tinggal di dunia, namun lalai dari membangun dan memperbaiki tempat tinggal di kampung akhirat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s