Be Realistic: Jalan Menolak Zina Perasaan

istock_000042312508_large-720x547

Saya hanya ingin berbagi sedikit cerita tentang salah satu prinsip saya. Dari dulu ketika SD, saya pernah punya prinsip.

“Aku gak mau dan gak akan pacaran sebelum lulus sekolah!”

Prinsip ini seketika muncul di pikiran saya yang dulu masih kelas 6 SD. Sebagai seorang anak yang belum mengalami pubertas, melihat remaja yang menghabiskan waktu dengan berpacaran, mencuri waktu belajar, membohongi orang tua, menghabiskan uang jajan secara tidak benar, semua itu adalah suatu kesalahan besar yang tidak bisa dibenarkan dalam jalan pikiran saya. Pacaran hanyalah bentuk kegiatan orang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan benar.

Semenjak masa puber dulu, saya tidak pernah mengambil pusing dengan sebuah ‘rasa’ yang terlintas. Belajar dan menaati semua peraturan orang tua adalah prioritas penting dalam diri saya.

“Masa’ sih gak pernah ngerasain suka sama seseorang?” tanya seorang teman suatu ketika.

Pernah. Saya juga manusia yang punya perasaan. Hanya saja kenyataan selalu mengajari saya bagaimana memprioritaskan sesuatu yang lebih penting dari sekedar menuruti hawa nafsu ‘menyukai’ seseorang.  Saya tidak pernah mendeskripsikan perasaan suka kepada seseorang lebih dari sekedar ‘kagum’. Dan saya sangat paham, bahwa itu hanya perasaan temporer yang seiring berjalannya waktu dapat hilang dan memudar.

Setelah masa remaja terlalui, saya menjadi sangat bersyukur bahwa memiliki jalan pikiran seperti ini adalah bentuk penjagaan Allah terhadap diri saya dari arus fitnah lawan jenis.  Seiring berjalannya waktu, datanglah pemahaman bahwa berhubungan dengan lawan jenis melalui pintu manapun ialah termasuk bentuk zina, dan saya semakin mantap dengan prinsip itu.

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’: 32)

Sekali-kali jangan pernah bermain api dengan fitnah lawan jenis. Bahkan menaruh rasa kecenderungan dalam bentuk harapan, kagum atau rasa suka, itu sudah bisa membuat syaitan memasukkan kita dalam perangkap fitnah lawan jenis. Oleh karenanya, cara paling ampuh untuk menghindari semua itu adalah mencegah jangan sampai hati kita terjangkit virus berharap, virus rasa suka dan kagum dkk.

Berharap pada makhluk tentang ketidakpastian adalah pekerjaan paling melelahkan yang tidak bisa diharapkan keuntungannya. Oleh sebab itu, saya selalu menghindari bentuk-bentuk bisikan hati seperti ini. Karena sekalinya terjerat, dapat dipastikan ia bisa menyita banyak waktu, focus, mood dan perhatian kita yang seharusnya bisa kita gunakan untuk mengerjakan banyak hal lain yang bermanfaat.

Saya hanya ingin menjadi seorang yang realistis. Termasuk dalam hal perjodohan. Betapapun saya berusaha belajar untuk menjadi seorang yang se-realistis dan se-profesional mungkin dalam hal perjodohan dengan berusaha tidak mengenal istilah ‘baper’ dan ‘galau’, tapi yaa syaitan memang lebih pandai darimana ia harus masuk merasuki jalan pikiran kita. Hal yang paling tidak saya sukai adalah, saat baper dapat menjadikan badan dan pikiran kita hilang mood dan focus mengerjakan semua pekerjaan. Karenanya saya selalu berusaha mencari cara untuk tidak dekat-dekat dengan kata baper dan keluarganya.

Saya sering menyampaikan hal ini pada rekan-rekan terdekat, “Coba ditelisik dulu, jika memang akan banyak ketidak-cocokan, lebih baik tidak usah (ditawarkan). Peluang cocoknya berapa persen? Kalo sekiranya besar ya silakan, kalo kecil lebih baik jangan. Daripada nanti malah buang-buang waktu, kan sayaaang”

Terlalu sadis? Hmmm, entahlah. Yang jelas ini salah satu cara paling ampuh menghindari hal yang paling saya tidak sukai dari diri saya, yaitu ketika “baper menghancurkan semua mood dan focus saya dalam mengerjakan banyak hal”. Menjadi seorang yang realistis dalam hal perasaan lebih dapat membantu saya memanfaatkan waktu.  Bagi saya, cara ini sangat ampuh menebas benih-benih harapan abstrak  tentang lawan jenis yang tumbuh karena bisikan syaitan.

Saya hanya ingin menjadi seorang yang realistis dalam menaruh harapan dan bergantung.  Jangan pernah menaruh harapan  pada makhluk, gantungkan semua harapan hanya pada Allah Ta’ala.

Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al-Ikhlash: 2)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Barang siapa yang bergantung kepada sesuatu maka dia serahkan  kepadanya” (HR. Tirmidzi dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albany   rahimahullah)

Yaitu barang siapa yang bergantung kepada sesuatu dan menjadikannya sebagai tujuan, sehingga dia menggantungkan harapan kepadanya dan menjadikannya sebagai penghilang rasa takutnya, maka dia akan menyerahkan dirinya kepada sesuatu tersebut dan akan bersandar kepadanya. Begitu pula,  apabila seseorang hanya bergantung kepada Allah, maka dia akan menjadikan Allah sebagai tujuannya, dia gantungkan harapannya kepada-Nya, dan Allah-lah yang menghilangkan rasa takut yang ada pada dirinya. Dia serahkan dan sandarkan dirinya, hanya kepada Allah ta’ala.

Saya percaya, bahwa Allah telah merangkaikan jalan cerita hidup yang sangat elok untuk saya. Kapan saya harus belajar sabar, kapan saya harus belajar syukur, kapan saya harus bertemu dengan jodoh, kapan saya harus mati, kapan saya harus ini, kapan saya harus itu. Semuanya Allah yang tentukan.

Yaa, meskipun terkadang banyak nasehat datang, “Anti kalau seperti ini terus nanti gak nikah-nikah lhoo…”

Ya, saya paham bahwa ini adalah bentuk nasehat perhatian. Tapi mengatakan sesuatu yang mendahului apa yang telah Allah taqdirkan itu juga tidak dibenarkan. Saya yakin kok, semua akan tjie-tjie pada waktunya… hehe.

So, keep calm and realistic. Let’s do what Allah has given to us. No baper baper!

“Maka apabila kamu telah selesai (dalam suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 7-8).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Maka jadikanlah kehidupanmu kehidupan yang penuh dengan kesungguhan, apabila engkau telah selesai mengerjakan urusan dunia, maka kerjakanlah urusan akhirat, dan jika engkau telah selesai mengerjakan urusan akhirat, maka kerjakanlah urusan dunia. Jadilah engkau bersama Allah ‘Azza wa Jalla sebelum mengerjakan tugas dengan memohon pertolongan-Nya, dan setelah mengerjakan tugas dengan mengharapkan pahala-Nya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. III, Dar Ats-Tsuraya, th. 1424 H. hal.255)

Adakalanya kita dapat menepis seluruh kegalauan hati, namun terkadang juga masih ada keresahan-keresahan yang menyibukkan pikiran kita. Mungkin hal itu terjadi karena masih adanya waktu luang yang tidak kita manfaatkan. Jiwa manusia memang senantiasa dalam salah satu dari dua keadaan, bisa jadi jiwa ini disibukkan dengan ketaatan kepada Allah, namun jika tidak, maka jiwa itu justru yang akan menyibukkan pemiliknya. (Nashihaty Linnisaa, Ummu ‘Abdillah binti Syaikh Muqbil bin Hady Al-Waadi’i, cet. I, Dar Al-Atsar, th. 1426 H. hal. 20)

Syaikh ‘Abdurrazaaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah memiliki resep jitu yang beliau kumpulkan dari petunjuk Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga kondisi keimanan kita. Beliau menjelaskan sebab-sebab yang dapat meningkatkan iman di antaranya:

  1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama yang diambil dari kitabullah dan sunnah rasul-Nyashallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa dengan membaca Al Qur-an dan mentadabburinya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, merenungi perjalanan hidup nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, merenungi ajaran-ajaran luhur agama ini, membaca perjalanan hidup salaful ummah, dan lain sebagainya. Namun ilmu itu sendiri bukanlah tujuan, melainkan sarana agar dapat diamalkan dalam bentuk beribadah kepada Allah Ta’ala, bukan untuk tujuan lainnya.
  2. Merenungi ayat–ayat kauniyah Allah yang ada pada makhluk-Nya
  3. Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih serta memurnikannya untuk mengharap wajah Allah semata, baik berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan.

(Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi, ‘Abdurrazaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr, cet. II, Maktabah Dar Al-Manhaj, th. 1431 H)

Adapun sebab-sebab yang dapat mengurangi iman dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor dari dalam berupa kebodohan, lalai, berpaling dan lupa, mengerjakan maksiat dan berbuat dosa, serta nafsu yang menyeru pada keburukan. Sedangkan sebab dari luar berupa syaitan, dunia dan fitnahnya, serta teman-teman yang buruk. Semoga dengan mengetahui sebab-sebab tersebut, kita dapat lebih waspada dan berusaha mengamalkannya agar terjaga dari keterpurukan iman bagaimana pun kondisi kita. Bukankah gagal menikah masih lebih baik dibanding gagal mengabdikan diri kepada Allah?

Wallaahu a’lam bish-showab

(Some text taken from: https://muslimah.or.id/3182-menepis-kegalauan-hati-dikala-masih-harus-menanti.html)

Akhir Oktober 2016
Kota Kembang
Written by Ummu Kiram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s