Ada Apa dengan Masa Muda?

Ustadz Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah hafizhahullah pernah berkata bahwa,

Usia muda adalah masa yang sangat dinamis, penuh gejolak dan ambisi berbalut kelabilan, bila masa itu tidak diarahkan degan baik dan benar maka niscaya kehancuran sebuah keluarga, masyarakat, dan bangsa akan menanti, angan- angan dan cita- cita indah hanya menjadi mimpi, sejarah akan mencatat bahwa dahulu ada sebuah negeri bernama Indonesia, namun negeri itu telah tiada di tangan para pemuda.

Sungguh besar tanggungjawab seorang pemuda, dimana di tangannya ada tanggungjawab dalam keeksistensian sebuah negara. Ini pun diperjelas dengan apa yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bahwa salah satu yang harus dipertanggung jawabkan selain semua umurnya adalah masa mudanya.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan, dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui”. (HR At-Tirmidzi)

Sungguh, usia muda yang kini kita jalani nantinya pasti akan dipertanggungjawabkan dan itu pasti akan terjadi. Kata banyak orang, hidup itu hanya sekali dan bagi saya pun masa muda hanya sekali. Di masa muda inilah kita bisa melakukan banyak hal, banyak hal yang sungguh bisa kita kerjakan, yang lebih dari hanya sekedar galau di dunia maya ataupun mengeluh tak jelas dengan hal- hal yang tidak perlu dibahas terlalu dalam.

Kata banyak orang, masa muda adalah masa yang berapi- api dan memang saya setuju dengan hal ini, tetapi bukankah berapi- api tanpa jelas itu suatu kesalahan yang fatal? Sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan kaum muda pergerakan yang dengan semangatnya turun ke jalan untuk berdemonstrasi, yang katanya menyuarakan keadilan rakyat, tetapi mereka dengan semangatnya malah merusak fasilitas umum, bahkan tak jarang malah mengganggu kepentingan umum. Sungguh, itu bukanlah cara yang hikmah dalam menyuarakan apresiasi kepada pemerintah.

Banyak orang mengatakan bahwa masa muda adalah masa dimana siapapun bisa melakukan banyak hal sebelum masa tua itu datang. Sebenarnya bagi saya, pendapat itu ada benarnya, ketika kita diberi kesehatan jasmani serta rohani, kita bisa melakukan banyak hal di masa ini, tetapi bukan berarti semua hal serta merta bisa kita lakukan karena perlu ada proses pemfilteran terlebih dahulu sebelum mengerjakan suatu hal. Proses penyaringan tersebut harus berlandaskan aturan- aturan dalam syariah, seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam Islam ada aturan yang jelas bagi kita dalam menjalani hidup, dan sungguh hanya agama Islamlah satu- satunya agama yang secara lengkap menjelaskan banyak hal yang kita kerjakan sehari- hari, mulai dari kita bangun tidur sampai kita tidur lagi, kesemuanya telah diatur secara lengkap dan rapi di dalam Islam, masyaa Allah. Aturan ini pun meliputi adab bergaul antara lawan jenis. Banyak sekali poin yang perlu menjadi sebuah catatan bagi saya pribadi khususnya dan yang membaca tulisan saya ini pada umumnya.

Yang pertama adalah menundukkan pandangan. Poin ini merupakan poin yang sangat sulit dilakukan karena setiap kali kita pergi pasti bertemu dengan lawan jenis, entah ketika kita di kampus maupun ketika di jalan. Bahkan, dengan majunya perkembangan teknologi, di media sosial pun kita bisa bertemu dengan lawan jenis dan ketika kita tidak bisa menundukkan pandangan maka hasilnya hati tidak akan terselamatkan. Seperti yang telah diungkap oleh seorang penyair yang intinya bahwa rasa cinta itu berasal dari mata dan akan turun ke hati. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nur: 30-31

“Katakanlah kepada laki- laki beriman, ‘Hendaknya mereka menundukkan dan memelihara kemaluaannya’. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluaannya”.

Yang kedua adalah kita dilarang untuk ber-khalwat (berdua-duaan) dengan seseorang yang bukan mahrom kita. Berduaan di sini tidak hanya secara fisik tetapi secara hati pula. Tidak dibenarkan ketika kita tidak berduaan secara fisik, tetapi chatting di inbox secara mesra berduaan tetap saja jalan terus, astaghfirullah. Padahal, hakekatnya mereka sedang berduaan dengan sembunyi- sembunyi dan bisa dikatakan dengan chatting berduaan tanpa kebutuhan mendesak adalah tidak diperbolehkan dalam syariat karena mereka sedang melakukan berdua-duaan juga, yaitu berkhalwat yang dilarang oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Jika berduaan walau tanpa menyentuh saja tidak diperbolehkan apalagi dengan bersentuhan, tentu hal tersebut lebih terlarang lagi. Dan cukuplah kita takut akan peringatan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang pernah bersabda,

“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarus besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Riwayat Thabrani dengan sanad hasan).

Pun dalam QS. Al- Isra’: 32, Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

Setiap yang Allah ta’ala larang pasti mengandung suatu faedah dan hikmah yang luar biasa bagi hamba-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah bahwa maksiat dan dosa adalah suatu penyakit yang bisa menimbulkan kerugian di dunia dan akherat. Mudharatnya bagi hati seperti mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh. Sebagaimana dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, yaitu Adam alaihissalam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari surga (tempat yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan) menuju tempat yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan yaitu bumi.

Kemudian, jika Allah ta’ala saja menghukum Adam alaihissalam dan isterinya karena satu kesalahan yang disengaja, maka jangan kita berpikir bahwa Allah ta’ala tidak akan menghukum seseorang karena satu kesalahan.

Akan tetapi, Allah ta’ala pun Maha Pemaaf dan Pemurah. Dia akan menerima taubat dari hamba- Nya yang bersungguh- sungguh dalam bertaubat.

Sebagaimana yang telah Allah ta’ala jelaskan di dalam QS. An-Nisā’:16,

“Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Dalam QS. Ţāhā: 82, Allah ta’ala pun berfirman,

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar”.

Dan, masih banyak lagi firman Allah ta’ala yang mulia yang menyuruh hamba-hamba-Nya untuk bertaubat.

Menjadi muda memang tidak mudah, tetapi mejadi tua kelak semakin bukan hal yang mudah pula. Maka, mari kita gunakan masa muda ini dengan sebaik- baiknya sehingga kita nantinya bisa memiliki bekal jawaban yang baik ketika kelak kita dimintai pertanggungjwaban.

Penulis: Setyo Wati, M.Pd.

Referensi:
1. Al-Quran
2. Faedah kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah
3. Ad-daa wa Ad-dawaa’, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s