​Inspirasi untuk Para Penghafal al-Qur’an: Sakit yang Membawa Nikmat dari  الله 

Bismillaah…
Saya dilahirkan di Jakarta, 11 Juli 1996. Saya terlahir dari keluarga Arab. Abi keturunan Arab, sementara Bunda saya berasal dari Yaman dan Turkey.

Alhamdulillah…saya lahir normal.

Saya bersekolah dari TK…SD…SMP…SMA di Al Azhar Pusat.

Tibalah musibah dan ujian dari Allah untuk saya.

Waktu kelas 5 SD, saya sering lemas kalau capek. Kadang sampai membuat saya sesak nafas. Saya berobat juga di MMC.

Tapi Abi membawa saya berobat ke Singapore ke Mount Elizabeth Medical Center.

Setelah melalui beberapa kali test di laboratorium dan saya juga dirawat di sana akhirnya dr. Ronald Paul Ng mendiagnosa penyakit saya bahwa saya menderita POLISITEMIA VERA, Pengentalan Darah, sudah level 2.

Saya bingung melihat Abi menangis sambil memeluk saya.

Sejak saat itu, saya sering masuk dan keluar MMC karena saya sering lemas, sesak nafas. Gejalanya sama persis dengan Bunda.

Waktu berlalu dengan cepat. Di kelas 7 SMP saya drop. Lama saya dirawat di Mount Eli dan Dr. Ronald memvonis penyakit saya yang sudah naik ke level 3 level tertinggi.

Saya sekarang menderita POLISITEMIA SEKUNDER.

Karena tulang sum sum saya terlalu banyak memproduksi butiran sel darah merah. Walaupun saya sudah minum obat Warfarin tiap hari, tapi tetap tak bisa dibendung.

Semua itu mengubah jalan hidup saya.

Saya merasa umur saya akan seperti Bunda rahimahallah. Bunda saya meninggal di usia muda, 31 th. Sebelumnya sempat koma 3 bulan di Mount Eli.

Dan pada tgl 27 September 2002, hari Jumat jam 7.00 pagi waktu Singapore. Bunda saya dipanggil sama Allah tanpa ada kata pesan apapun buat saya dan Abi.

Saya yang baru berumur 6 th waktu itu hanya bisa menangis, menangis selama sebulan.

Sekarang semua kenangan itu terulang kembali di benak saya.

Akankah hidup saya seperti Bunda meninggal di usia muda???

Saya mulai rajin belajar mengaji. Dari usia 3 tahun saya sudah belajar shalat. Di usia 5 tahun saya sudah mengaji Al Quran. Guru mengaji saya, ibu ustadzah Khasanah Hamdani, beliau lulusan LIPIA.

Sampai akhirnya saya belajar menghafal beberapa surat yang ada di Al Quran. Seperti surat Al Kahfi, Ar Rahman, Yasin, Maryam, juz Amma, AlWaqi’ah, Al Muzammil, dan beberapa surat bagus lainnya yang dipilih sama ibu Khasanah.

Sekarang saya sudah berusia 19 tahun. Saya masih menderita Polisitemia Sekunder.

Saya sudah 9x drop dan semua dirawat di Mount Eli.

Saya masih bisa kuliah di Tehnik Bioproses UI, sekarang semester 7.

Allah masih memberi saya nafas.

Selama 3 th terakhir ini, dr. Ronald memvonis saya kalau sisa umur saya tinggal 5 – 8 tahun lagi.

Sejak itulah saya niat untuk menghafal Al Quran 30 juz.

Saya bilang ke guru mengaji saya tentang niat saya ini, dan beliau sangat mensupport saya serta bersedia membimbing saya.

Mulailah saya menghafal juz 28. Alhamdulillah… juz 30 dan 29… saya sudah hafal.

Metode saya menghafal sangat simpel. 1 ayat diulang 20x.

Saya setoran ke guru mengaji tiap habis Maghrib sampai jam 20.00. Itu tiap hari. Kecuali hari Sabtu dan Minggu, saya mengaji dari jam 8.30 pagi sampai selesai shalat Dzuhur.

Sampai sekarang…Alhamdulillah… saya sudah menghafal 16 juz…. selama 1,5 th. lebih.

Saya merasa belum punya banyak amal yang bisa menjadi bekal buat saya kelak.

Saya hanya ingin membawa hafalan Quran saya untuk الله.

Saya juga selalu puasa Senin Kamis dari SMP. Dan shalat tahajjud juga dari SMP.

Dulu saya shalat tahajjud pakai weker. Saya shalat hanya 2 rakaat saja ditambah witir 3 rakaat disambung dengan mengaji mulai dari 1 juz sampai bisa 3 juz.

Karena selalu Istiqomah akhirnya Allah memberi banyak niat dalam hidup saya.

Tiap bangun untuk shalat tahajjud tidak perlu weker lagi. Allah membangunkan saya selalu dengan cara yang sama. Saya selalu merasa ingin pipis di jam 02.00.

Akhirnya saya bangun dan berwudhu.

Kalau kita dekat sama الله, banyak cara الله memberi kita nikmat yang lebih besar lagi.

Sesakit apapun saya, entah lagi dirawat, atau terbaring di kamar di rumah saya, kalau untuk shalat tahajjud dan mengaji, entah kenapa Allah memberi saya kekuatan. Saya kuat dan bisa beribadah tiap malam. Rasa sakit itu hilang, tetapi begitu selesai shalat Subuh saya lemas kembali.

Itulah yang membuat saya merasa disayang Allah. Kesempatan beribadah untuk saya itu luas. Sehabis shalat sunnah dan shalat fardhu pun saya bisa mengaji minimal 1 juz. Dan Alhamdulillah, itu terjadi sampai detik ini. Saya masih bisa melakukannya dengan istiqomah.

Saya tidak menghitung tentang Khatam Qurannya saya. Saya juga tidak pakai target. Yang saya tahu saya menghafal, shalat, mengaji, semua untuk Allah, mencari ridhaNya Allah.

Saya juga selalu berdoa…kalau Engkau memanggilku Ya Allah… jemputlah aku dalam keadaan sedang bersujud kepadamu… atau sedang melantunkan ayat-ayat-Mu Ya Allah.

Hanya ini doa saya.

Sekarang saya hanya memohon untuk diberi kesempatan bisa selesai menghafal Al Quran karena waktu saya belum tentu banyak… belum tentu panjang.

Kalau lagi drop… saya sesak nafas dan harus bernafas dengan bantuan Oksigen. Karena suplai darah ke otak berkurang sehingga Oksigen pun berkurang drastis. Saya jadi sesak nafas.

Di rumah… di beberapa ruangan ada tabung Oksigen yang dipersiapkan Abi untuk saya. Juga di mobil.

Sekarang saya sering therapy di Mount Eli tiap 1x sebulan. Therapy Radioaktif Fosfor P-32… untuk menurunkan produksi butiran sel darah merah saya. Juga untuk menurunkan level penyakit saya. Tapi Allah belum ridha untuk itu.

Saya masih di level 3. Mungkin kalau saya sembuh… Allah takut saya lalai dari shalat tahajjud…mengaji dan menghafal. Jadi Allah belum memberi kesembuhan buat saya.

Hanya nikmat beribadah saja yang masih tetap ada sampai saat ini.

Saya ikhlas dan ridha dengan apapun keputusan Allah untuk saya… apapun itu… sudah menjadi taqdir Allah untuk saya.

Saya juga ikhlas… tidak bisa menikah… karena penderita PS tidak bisa hamil.

Bunda rahimahallah…sebelum melahirkan saya…pernah keguguran 3x. Bunda bersaudara ber-10… dan semua meninggal di usia muda… karena Polisitemia Sekunder (PS).

Saya tidak pernah menyesali kenapa saya terlahir dari seorang ibu yang menderita PS. Itu sudah ketentuan Allah buat saya.

Allah memberi saya penyakit… Allah pula yang memberi saya amat banyak nikmat dalam hidup saya.

Saya mensyukuri semuanya. Saya ingin menjadi perempuan shalihah untuk Allah. Saya ingin menjadi anak perempuan yang bisa membuat Bunda rahimahallah dan Abi bangga dengan saya.

Walaupun saya anak tunggal… tapi saya tidak manja. Apa yang saya dapat dari Abi… itu hanya titipan. Allah kasih rezeki yang tidak putus-putusnya ke Abi… untuk biaya berobat saya tiap kali saya sakit.

Semua itu Allah kasih sebagai bonus dari hafalan Quran… shalat tahajjud… dan mengajinya saya tiap hari.

Makin banyak kita beribadah pada Allah… makin sayang Allah pada kita… dan makin banyak nikmat yang Allah beri untuk kita dalam kehidupan ini.

Bagaimanapun keadaan dan kondisi kita… tetaplah ingat Allah di setiap tarikan nafas ini. Jangan berpaling dari-Nya.

Insyaa Allah… kita bisa mendapat ridha-Nya Allah dan bisa masuk ke Jannah-Nya Allah kelak.

Aamiin Allahumma Aamiin…

Semoga sharing kisah hidup saya ini bisa memberi motivasi untuk kita semua…bahwa Allah akan selalu sayang dan dekat dengan hamba-Nya… bila kita selalu istiqomah beribadah kepada-Nya… baik dalam keadaan sehat maupun sakit.
Minggu 9 Robiu’ul Awal 1437 H / 20 Desember 2015 M. Menjelang waktu dhuha oleh A. Az-Zahra Basalamah…

Sumber : sahabatmuslim01.blogspot.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s