Ibu Terhebat

Ada banyak hal yang membuat ibu lebih diutamakan daripada ayah karena surga seorang anak di bawah kaki bunda (red: ibu).

Sesosok yang sangat sabar itu biasa aku panggil ibu. Akan tetapi, di ponselku, aku panggil beliau dengan bunda.

Bunda atau ibu, yang pasti aku paling suka kedua sebutan itu untuk beliau daripada mama, mami, atau mom.

Ibu atau bunda itu lebih syahdu terdengar, menurutku.

Ibuku adalah sosok yang paling sabar dalam hidupku. Beliau tidak pernah marah- marah kepadaku. Meninggikan suara pun tak pernah. Apalagi, berkata- kata pedas, tak pernah satu pun kata tersebut keluar dari beliau. Luar biasa bukan.

Beliau tak pernah menyuruhku dengan kasar untuk melakukan ini dan itu, maupun melarangku ini dan itu.
Ibu adalah sosok luar biasa buat suami beliau (red: ayahku) dan bagi anak- anak beliau.

Setiap hari, beliau selalu bilang kepadaku bahwa ayah sangat menyayangiku dan selalu mengkhawatirkanku. Maka, aku harus mengerti. Pesan itu selalu ibu katakan kepadaku sejak kecil agar aku mengetahui mengapa ayah selalu over protective kepada kakak- kakakku, termasuk kepadaku.

Meski, ibu sangat sabar, itu bukan berarti aku tak patuh pada beliau. Ketika ibu bilang “ibu tak suka” maka aku akan menuruti perintahnya yang penting tidak keluar dari syariat. Dalam hal sepele pun, aku harus menurutinya. Mengapa bisa demikian?

Alasan pertama karena aku tak mau jadi anak durhaka yang menentang orang tua. Kalau perintah beliau- beliau tidak keluar dari syariat maka aku pasti akan menurutinya.

Alasan kedua karena ibu mempunyai penyakit jantung lemah. Beliau bisa pingsan setiap saat jika ada anak beliau yang tidak ‘nurut’, walau cuma mengatakan “ah” atau “uh” pasti beliau sangat sedih kemudian lemes. Dan, paling parah, beliau bisa pingsan kemudian menangis. Inilah hal yang paling aku takutkan. Aku tidak mau kehilangan beliau dengan menjadi seorang anak yang pembangkang kepada orang tua.

Banyak hal yang aku pelajari dari beliau. Banyak sekali, tetapi di sini hanya akan aku sebutkan sedikit saja.

Selain sangat sabar, ibuku juga sangat pemaaf seperti ayahku. Keduanya selalu membuatku takjub. Keduanya selalu mengajarkanku untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan orang yang tak termaafkan sekalipun.

Ibu adalah sosok yang sangat pandai memasak seperti juga ayahku yang pandai memasak. Maka, jangan heran kalau masakan keduanya memang sangat mantap dan enak, tidak sepertiku yang newbi dalam bidang masak memasak..hahaha.

Saat aku mulai beranjak dewasa, ibu selalu berpesan kepadaku bahwa nanti jika aku menjadi istri (entahkan nanti, yang pasti insyaa Allah nanti) maka aku sebagai istri harus memuliakan suami dan tidak boleh bertanya berapa gaji suami, harus “nrimo” berapapun uang yang akan suami berikan kepada istri. Dan, perlu diketahui bahwa surga istri ada di suami, sedangkan surga suami ada di ibunya, maka jangan sampai bertanya berapa uang suami yang telah diberikan kepada orang tuanya. Biarkan. Biarkan suaminya berbakti kepada orang tuanya dengan memuliakan keduanya. Pastinya, untuk suami sholeh akan mengetahui bagaimana harusnya dia bersikap. Masyaa Allah, nasehat ibu yang syahdu.

Ibuku adalah segalanya buatku. Sampai kapan pun aku ingin membersamainya. Sampai kapan pun aku sangat mencintainya. Bagaimana pun aku sungguh tak mau membuat ibu terluka. Ibu, sungguh aku mencintaimu

~14 Muharram 1438 Hijriyah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s