Ayah Terhebat

Ada beberapa hal yang membuat ayah lebih diutamakan lebih dari ibu. Dimana untuk menikahkan anak gadisnya maka ayahlah yang harus menikahkan.

Ayahku hebat dan beliau adalah segalanya buatku.

Sejak kecil, aku dididik keras oleh ayah. Itu sebagian besar pendapat banyak orang akanku.

Ayahku tak pernah mengizinkanku untuk membawa tamu laki- laki ke rumah, meski cuma teman, apalagi pacar. Kalau aku punya pacar pasti aku bakal diusir dari rumah..hahaha. (ini tidak lebay)

Ya benar, aku tidak pernah diizinkan untuk berpacaran dan tidak diizinkan untuk pulang sore sangat melewati waktu Maghrib.

Apa hanya itu peraturan buatku. Tidak. Masih banyak lagi.

Setiap bulan, aku harus membuat rencana keuanganku sendiri termasuk uang saku, uang beli buku, dan uang sekolah. Di setiap bulan, aku harus mengajukan proposal keuanganku sendiri yang meliputi uang saku dalam satu bulan (yang sudah aku sepakati dengan ayah), uang buat beli buku, dan uang pembayaran sekolah.

Selama satu bulan itu, aku harus pintar memenajemen uang, tidak boleh minta lagi.

Hal ini berlaku sejak aku kelas 5 SD sampai selesai kuliah S1. Banyak orang heran, tetapi aku sendiri bahagia saja, menikmatinya.

Banyak pembelajaran yang aku peroleh. Pernah aku harus tidak jajan karena uang sakuku habis. Jangan mengira uang sakuku banyak, uang sakuku biasa saja. Alhamdulillah, cukup untuk beli soto, es teh, dan gorengan. Kalau mau nabung, ya harus menyisihkan salah satunya tidak aku beli.

Pernah waktu itu, karena mungkin anak SMP yang pengen tas baru, maka aku berniat menabung. Aku sisihkan uang saku, tidak jajan di sekolah. Gantinya dengan membawa bekal makanan. Berbulan- bulan nabung, alhamdulillah uang terkumpul. Finally, aku bisa membeli tas merk Tracker warna hijau yang aku suka. Bahagiaaa.

Di dalam kamus ayah, tak ada anak beliau yang boleh naik motor ke sekolah dari SD sampai SMA. Titik.

Ini peraturan dan tidak boleh dilanggar. Maka, aku dan kakak- kakakku tidak naik motor ke sekolah. Kami naik sepeda onthel (kata orang Jawa gitu menyebutnya).

Biasanya aku naik sepeda Polygon warna silver yang aku tempeli bunga matahari di keranjangnya.

Jam setengah 7, aku berangkat ke sekolah, sekitar 10 menit aku sampai ke sekolah dengan kecepatan penuh. Pas banget. Jam 7 kurang 15 menit, gerbang sekolahku ditutup.

Pernah waktu itu, aku berangkat ke sekolah jam setengah 7 lebih 5 menit, aku merengek- rengek ke ayah buat nganterin ke sekolah dan ayah cuma bilang “kamu harus bertanggungjawab atas itu, kalau kamu terlambat kemudian dihukum maka ya itu konsekuenmu”.

Baiklah. Dan aku pun terlambat dan dihukum.

Sejak itu, aku memang sempat marah sama ayah. Akan tetapi, tetiba saja memaafkan karena memang menurutku memaafkan adalah perbuatan mulia. Lagipula benar juga kata ayahku.

Pernah juga waktu itu hujan lebat dan ayah tidak mau mengantarkan. Aku disuruh pakai payung dan jas hujan naik sepeda onthel. Well, aku pun melakukannya. Sedih kerasanya waktu itu, tetapi ya sudah, mau bagaimana lagi.

Saat itu, aku pikir, aku anak tiri yang diperlakukan seperti itu, tetapi ternyata kakak- kakakku pun bernasib sama dengan aku.

Dan, sekarang aku mengerti kenapa ayah bersikap demikian. Dia ingin aku kuat sebagai anak.

Kalau kata orang, anak terakhir itu selalu dimanja, aku pikir tidak dengan aku.

Aku diajarkan untuk selalu bertanggungjawab atas apa yang aku ambil. Ketika memulai dengan baik- baik maka harus menyelesaikannya dengan baik- baik. Jangan lari dari sesuatu yang aku mulai sendiri. Apalagi, berdiri di belakang orang tua, tentu ini bukan yang diajarkan buatku. Maka, kalau ada lelaki yang mengambil keputusan di belakang orang tuanya dan tidak bertanggungjawab atas apa yang dia mulai sendiri. Ya, sudah. Biarkan. Itu bukan urusan kita. Setiap perbuatan akan ada balasannya dari الله.

In my life, my dad is my everything.

Apa yang diajarkan padaku, semoga selalu bermanfaat buatku.

Meski ayah sangat disiplin mendidik aku, itu karena ayah sangat sayang denganku.

Ketika aku sakit, ayah pasti selalu menemaniku di sampingku. Ingat sekali waktu SD, ketika aku sakit cacar air sehingga aku tidak bisa tidur, sayup- sayup ayah sholat malam di samping tempat tidurku kemudian terdengar beliau menangis untuk berdoa akan kesembuhanku.

Terakhir, ketika aku sakit bulan Ramadhan 1437 Hijriyah kemarin. Selama 10 hari, ayah menemaniku, tidak tidur. Ayah memijat kepalaku semalaman. Memijat kakiku juga. Efek kecapaian yang sangat ketika mengerjakan tesis membuatku akhirnya sakit. Namanya juga manusia, sakit itu wajar. Yang salah adalah yang mempermasalahkan sakit itu. Semoga الله menyadarkan orang yang mencaci orang dan memberondong berbagai pertanyaan kepada orang sakit. 

Alhamdulillah, sampai detik ini aku hidup dan sehat. Mampu berdiri. Mampu meraih impian dan aku masih berjuang untuk meraih impian- impianku yang lain. Impian tertinggiku adalah masuk jannah الله bersama ayah, ibu, dan keluargaku. Semoga الله selalu memudahkan dan selalu memberikan hidayah-Nya.  Aamiin..

~13 Muharram 1438 Hijriyah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s