Kota Yogyakarta

10492439_10152243332113717_6753821591754256145_n

Kota Yogyakarta, biarkan aku bercerita tentangnya.

Kota ini adalah kota yang penuh dengan cerita, mulai dari pertama kali menginjakkan kaki ke kota ini beberapa tahun dulu dan berangan- angan untuk kuliah di kota ini, sampai akhirnya aku datang ke kota ini sebagai seorang pelajar. Doaku yang dari dulu untuk bisa kuliah di Jogja akhirnya Allah ta’ala kabulkan jua. Meneruskan kuliah S2 adalah keputusanku setelah lulus S1 di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Tak ada tujuan lain selain untuk membahagiakan kedua orang tuaku dan untuk sebuah alasan agar aku dilegalkan oleh kedua orang tuaku untuk bisa belajar agama Islam lagi serta bisa berpakaian sunnah. Maklum saja, aku tinggal di salah satu kota di karisidenan Solo Raya dimana di kota kami sudah terkenal dengan yang namanya isu terorisme yang mulai merebak sejak aku duduk di bangku SMA. Aksi- aksi terorisme tidak jelas itu malah membuat citra Islam tidak baik, termasuk membuat penyakit dalam dada umat muslim. Jadilah islamophobia merebak di masyarakat. Demi melindungi anak-anaknya, tidak sedikit orang tua yang over protective dengan anak- anaknya sehingga melarang mereka untuk menggunakan jilbab yang terlalu besar (katanya).

Saat masih duduk sebagai mahasiswa S1, karena tidak boleh ini dan tidak boleh itu, akhirnya  aku memutuskan untuk menyibukkan diri dengan kesibukan berbagai hal di kampus, yang akhirnya mengantarkanku tumbuh menjadi mahasiswa yang sibuk di bidang penelitian dan jurnalistik. Sebuah kesibukan yang akhirnya aku ambil agar tak terjerumus ke pergaulan yang kurang baik di kampus (pikirku saat itu). Kesibukan datang di majlis ilmu (seperti waktu SMA) pun akhirnya terkurangi karena kesibukanku akan kampus dan segala hal di dalamnya sudah menyita waktuku.

Menjadi salah satu Mapres (Mahasiswa Berprestasi) di kampusku dengan mengantongi beberapa pengalaman di dunia penelitian, organisasi, dan pengabdian masyarakat, ditambah menjadi pengurus di bagian kemahasiswaan di Rektorat kampus akhirnya menambah kesibukanku. Hari- hariku berisi tentang dunia, tentang penelitian, tentang kuliah, dan tentang masyarakat. Bagaimana ini dan itu. Tanganku terasa selalu tergelitik untuk membuat ide penelitian baru maupun untuk mengembangkan penulisan jurnalistik. Bahkan, aku juga mulai tertarik dengan dunia kerja di perusahaan, maklum saat itu aku juga sibuk mengurusi Alumni Career Development Center di kampusku. Bekerja sama dengan beberapa perusahan besar di Indonesia adalah tugas kami saat itu.

Singkat cerita, aku bisa lulus dengan nilai cumlaude (mahasiswa terbaik kedua di jurusanku). Lulus kuliah langsung dapat kerja dan sudah tidak minta uang dari orang tua akhirnya bisa aku lakukan. Orang tua bahagia dan aku pun bahagia. Sampai satu titik, aku jenuh dengan segala hal.

Kuputuskan untuk datang ke taman- taman surga lagi, majlis- majlis ilmu yang dulu sempat aku tinggalkan. Rasa bahagia entah merebak di dada. Info beasiswa pun akhirnya aku dapatkan. Ku pilih kota Jogja untuk studi lanjutku. Ribet memang mengurus berkas, belum ditambah lagi kesibukanku mengajar di sebuah sekolah bonafit di Solo.

Dengan minta ridho orang tua dan berdoa kepada Allah ta’ala akhirnya aku diterima untuk S2 dengan beasiswa dari pemerintah. Ini murni kehendak Allah ta’ala karena aku merasa bukanlah siapa- siapa, aku akui anak muda pintar di Indonesia itu banyak, kalau bukan kehendakNya, aku tak mungkin dapat kesempatan ini.

Tahun 2013, kumulai kuliah di Jogja. Mulai pindahan di tempat tinggal yang baru dengan diantar kakek, nenek, kakak, dan keponakanku. Seperti biasa, aku hanya membawa seperlunya barang- barang yang perlu dibawa. Sejak itu, aku memulai hari- hariku di Jogja sampai sekarang. Siapa sangka akhirnya aku berada di satu titik dimana aku harus balik menetap lama di kota asalku dan meninggalkan kota Jogja yang penuh dengan cerita. Jogja Solo memang dekat, tetapi mungkin tak akan seperti dulu dimana aku menetap dan tinggal lama di Jogja.

Segala cerita di Jogja akan selalu terkenang. Meskipun setiap cerita tak selalu tertuliskan di blog ini, tetapi cerita itu tetaplah memori indah yang akan muncul kembali saat aku melewati tempat dimana cerita itu muncul. Mulai dari setiap sudut di wisma, setiap sudut di kampus, setiap sudut di masjid, sampai setiap sudut di sepanjang jalan di kota Jogja akan selalu terkenang. Terima kasih ya, Rabb.. atas segala hal yang telah Engkau berikan. Semoga hari- hariku akan bahagia di mana pun tempat hamba-Mu ini tinggal dan selalu bahagia untuk bisa selalu beribadah kepada- Mu.

Terima kasih ya, Rabb… atas hidayah untuk hamba sehingga bisa sedikit demi sedikit memperbaiki akhlak dan kebiasaan. Sedikit demi sedikit berpenampilan sunnah dengan sesekali menggunakan penutup muka.

Terima kasih ya, Rabb… sekarang orang tua hamba pun sudah mengijinkan hamba berjilbab lebar dan berpakaian syar’i. Terima kasih ya, Rabb..

Semoga hamba –Mu ini bisa selalu istiqomah di jalan-Mu.. bisa selalu mentauhidkan- Mu setiap saat. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s