Satu September 2015

1495996_656626911055914_596946529_o

Wow.. tanggal satu September 2015. Tanggal baru di bulan baru, sungguh berasa semakin tua diri ini.. ^^

Hey.. jangan bingung yaaa.. karena tulisan ini hanya membawa kita dalam tulisan ringan dengan beberapa ulasan yang semoga tidak memusingkan jika dibaca.

Ketika mendengar bulan September, maka yang paling kerasa banget adalah bulan ini merupakan bulan yang berada di urutan bulan- bulan akhir dalam satu tahun. Untuk para mahasiswa tingkat akhir, siap- siap untuk menyiapkan segudang jawaban mengenai pertanyaan “kapan lulus?”. Begitu pula untuk yang belum menikah dan sudah lulus kuliah perlu siap- siap juga menghadapi petanyaan “kapan menikah?”. Dan, bagi yang masih mahasiswa tingkat tengah harus nyiapin pertanyaan juga “wah dah gedhe. Dah nyusun tugas akhir belum?”.

Ah, pertanyaan- pertanyaan itu memang pernah dan sebagian sering mampir ke telinga saya, tetapi namanya juga manusia, kalau nggak nanyain tentang demikian maka mungkin rasanya ada yang kurang untuk diungkapkan, so jangan heran yaaa…🙂

Untuk bulan September ini akan menjadi salah satu bulan yang akan berkesan bagi saya, kenapa? alasannya adalah.

Pertama, karena kakak sepupu saya (yang lebih tua dari saya 2 tahun) akan menikah bulan ini. Yang jadi fokus utama bukan karena saya sedih karena ditinggal kakak sepupu menikah, tetapi saya totally sangat senang. Lagipula, dari pada kelamaan beliaunya pacaran (sebelum menikah) mending kan beliau segera menikah. Apalagi, saya tidak setuju sama sekali dengan pacaran sebelum menikah.

Yang jadi fokus di sini sebenarnya adalah karena setelah kakak sepupu saya menikah maka pertanyaan “kapan menikah” yang sebelumnya nggak pernah mampir di telinga saya pada saat saya di lingkungan keluarga besar saya, maka beberapa saat nanti akan banyak yang bertanya, seperti saat lebaran kemarin, budhe saya (yang tidak pernah bertanya demikian) untuk pertama kalinya beliau bertanya kepada saya. Dengan senyum pun saya cukup menjawab pertanyaan beliau..🙂

Saya adalah cucu ketiga termuda di keluarga besar dari ayah saya. Kakek dan nenek saya memiliki sekitar 19 cucu dari keenam anak beliau, dan saya cucu termuda ketiga dari cucu- cucu yang lain. Tak terasa bulan berlalu, tahun berlalu, dan akhirnya menyisakan 4 cucu paling muda yang belum menikah, termasuk kakak sepupu saya, saya sendiri,  dan 2 adek sepupu saya. Kalau sebelum- sebelumnya tak pernah ada pertanyaan mengenai “kapan menikah”, secara tiba- tiba pertanyaan itu terdengar setelah ada kabar baik dari kakak sepupu saya yang akan menikah bulan September tahun ini. So, pastilah untuk kali pertamanya tahun ini hanya akan menyisakan 3 cucu krucils yang masih kuliah dan sekolah.

Yang kedua adalah bulan ini akan membuat jantung saya berdegup semakin kencang karena sampai bulan ini tugas akhir saya belum kelar. Sudah berapa banyak orang yang bertanya tentang tugas akhir saya, pastinya sudah tak terhitung banyaknya. Target untuk wisuda bulan Agustus 2015 tinggallah kenangan dan menjadi prioritas adalah wisuda bulan November 2015, atau paling tidak bulan November saya harus sudah ujian pendadaran. Kalau dahulu saat saya S1, skripsi saya sangat lancar tanpa hambatan dan bisa lulus 3,5 tahun, tetapi beda untuk jenjang S2 ini. Banyak halangan yang saya rasakan, dan sebenarnya halangan yang paling besar adalah halangan dari diri sendiri. Memang benar self-management itu susahnya minta ampun.

Yang ketiga adalah sepertinya di titik ini saya sudah ingin balik ke kampung halaman saya di Solo. Meskipun Solo- Yogyakarta tidak terlalu jauh, tetapi rasanya saya sudah sangat cukup lama menghabiskan waktu di Yogyakarta, dan rasanya saya ingin kembali pulang melihat pemandangan kota saya. Menikmati setiap detik berharga bersama orang tua dan keluarga saya. Mungkin inilah yang namanya jenuh dan ingin kembali di tengah ibu dan ayah sebagai anak terakhir..🙂

 

drfdsfApapun keresahan yang saat ini saya rasakan dan mungkin teman- teman rasakan pula, semoga semuanya akan berjalan dengan sangat baik karena memang takdir Allah Ta’ala itu yang terbaik..🙂

Yakin saja bahwa sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi hak kita, Allah Ta’ala tidak akan membiarkannya menjadi milik orang lain karena Allah Ta’ala telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu dan ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan, dan kehendak Rabb kita.

Allah Ta’ala berfirman,

إنا كل شىء خلقنه بقدر

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)

وخلق كـل شىء فقدره, تقديرا

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)

وإن من شىء إلا عنده بمقدار

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)

 

 

-di pojokan perpustakaan pascasarjana di salah satu kampus negeri di Yogyakarta-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s