Mozaik Kehidupan

Kehidupan ibarat susunan- susunan mozaik yang tersusun hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, dan waktu demi waktu. Tinggal di Jogja adalah salah satu mozaik kehidupan saya. Banyak hal telah saya lakoni di sini, dari hal yang sedih sampai bahagia, masyaa Allah… kemudian nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

flowers-life-love

Jogja itu mengesankan. Betapa tidak? Ketika kita dengan mudahnya menghadiri taman- taman surga di sini. Di tempat ini, saya selalu mencoba untuk bahagia, meski kehidupan tak selalu diliputi dengan kebahagiaan. Di sini saya banyak belajar, mencoba untuk belajar dari awal lagi dari ilmu agama yang saya merasa sudah banyak tertinggal, pun dari ilmu akademis di kampus yang saya merasa juga masih perlu sangat belajar. Bahagia meski kadang kala lelah ketika mengejar ketertinggalan, tetapi sungguh saya bahagia untuk bisa diberi kesempatan untuk lebih belajar lagi tentang Islam.

Di sini pun saya memulai untuk belajar tahsin lagi dan menghafal al- Qur’an. Sungguh, nikmat yang luar biasa ketika kita diberi kesempatan untuk belajar agama Islam lagi. Pun saya mencoba untuk belajar bahasa Arab lagi meskipun sampai sekarang bahasa Arab saya masih sangat minim dan masih perlu belajar lagi. Saya pun mencoba menambah ilmu agama Islam lagi dengan menghadiri majlis ta’lim. Banyak hal yang belum saya ketahui dan dengan cara inilah salah satunya untuk belajar lagi.

Kuliah lagi adalah salah satu jalan untuk belajar ilmu syar’i. Dengan kuliah lagi, saya bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Sungguh, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

flowers

Di sini, saya berkesempatan untuk mengajar di sebuah MTs Jamillurrahman di Bantul. Mengajar bahasa Inggris di sana, sungguh nikmat. Bagaimana tidak, ketika saya bisa mengajar hanya di kelas yang hanya diisi siswi- siswi tanpa ada siswa laki- laki dan tanpa guru laki- laki di sana, sungguh terjaga.

Untuk masalah gaji jangan ditanya karena saya tidak terlalu memikirkannya. Bukan karena menolak gaji, bukan. Akan tetapi, saya tidak mau mempermasalahkan gaji berapa pun itu, yang perlu saya lakukan adalah mensyukurinya. Berapa pun gajinya, saya mencoba mensyukurinya, yang terpenting adalah saya mendapatkan kenyamanan dalam mengajar dan belajar. Mengajarkan ilmu yang saya dapat dan belajar tentang banyak hal (tentang kesederhanaan, tentang semangat belajar Islam, tentang senyuman, dan tentang keistiqomahan).

Bertemu dengan para ummahat yang inspiratif. Para ummahat yang dengan kesibukan mengajar di sekolah dan rumah tangga, tidak menyurutkan beliau- beliau untuk belajar ilmu dien. Akhlak dan adab berinteraksi beliau- beliau pun membuat saya tertegun, sangat anggun. Sungguh, agama itu adalah akhlak yang terpancar dalam diri, bukan hanya hafalan yang telah dihafal. Pelajaran bagi saya yang sangat berharga.

Istri dari ustadz Afifi Abdul Wadud pun menjadi salah satu rekan kerja saya di sana, sungguh luar biasa, bukan? Ketika kita bisa memiliki rekan kerja dengan istri seorang ustadz seperti ustadz Afifi. Seorang ummahat dengan umur sekitar 40 tahun dengan kesederhanaan beliau dan akhlak yang baik menjadikan beliau seperti guru bagi saya untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Tidak hanya itu saja, di sana saya pun bertemu dengan rekan kerja yang lain yang sangat inspiratif, dimana guru- guru di sana merupakan orang- orang yang paham agama dien lebih dari saya. Siswi- siswi di sana pun luar biasa, meskipun masih kecil, mereka telah banyak yang telah menjadi penghafal al-Qur’an 30 juz, bukan hanya juz 30… masyaa Allah. Kalau pun belum, mereka rata- rata telah menghafal al- Qur’an lebih dari 3 juz dan banyak yang telah hafal 10an juz, masyaa Allah.. luar biasa bukan?

Itulah salah satu hal yang menampar saya untuk bisa lebih baik lagi, lebih semangat lagi untuk belajar ilmu dien, dan menghafal al- Qur’an lagi. Semangat ini tidak sering saya dapatkan ketika di kampus.

Belajar itu memang tidak hanya kita duduk di bangku kelas, tetapi di setiap pojok bumi ini kita bisa belajar. Semoga kita dipermudah untuk menjadi pembelajar yang bisa memperbaiki diri. Dan memang, tidak penting seberapa lambat kita bergerak, yang penting kita tidak berhenti untuk memperbaiki diri..🙂

-di sudut kamar di tengah kesibukan-

Pogung Dalangan, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s