|Cinta dan keshalihan, dua hal yang saling mengikat dan tidak akan pernah saling menjatuhkan|

blue-bouquet

“Bang, ada teman saya bertanya soalan rasa. Sejatinya dia cenderung kepada seorang muslimah yang dikenal shalihat. Qadarullah, sang muslimah terikat takdir dengan lelaki lain hingga kecenderungannya menjadi hal yang terlarang. Namun masalahnya sampai saat ini dia tidak bisa mencabut rasa itu. Kecenderungan itu tetap ada walau dia sudah ikhlas dengan keputusan takdir. Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kecenderungan itu?”

Sebelum kita berbicara soal kecenderungan yang terlarang karena takdir, mari kita runut beberapa sejarah kecenderungan yang muncul namun tidak terikat kepada takdir. Kecenderungan kepada pertama sekali ada pada Qabil anak nabiyullah Adam yang merasa seharusnya dia menikahi saudara kandungnya sendiri Iqlima. Namun jodohnya tertolak hingga membunuh saudara kandungnya sendiri Habil. Inilah kisah tragis kecenderungan kepada lawan jenis pertama sekali di dunia. Kecenderungan yang tidak berlandaskan iman di dada akhirnya berakhir kepada kecelakaan.
Namun bila kita bicara kepada kecenderungan yang berlandaskan keimanan, maka kisah ini akan berbeda sama sekali. Ada beberapa kisah yang akan kita contohkan. Pertama sekali kisah Salman Al Farisi dengan Abu Darda. Kisah ini tentunya menjadi tolak ukur kisah kecenderungan yang tertolak takdir namun berada dalam koridor ke imanan. Kita akan menjumpai bahkan atas nama ukhuwah, mahar yang sejatinya ingin diberikan kepada sang gadis malah di wakafkan kepada sang shahabat demi kebahagiaan keduanya.

Ada kisah lain yang mungkin jarang kita ketahui. Yakni terkisah shahabat Rasulullah yang di jamin syurga, Thalhah bin Ubaidillah memiliki kecenderungan kepada Aisyah Radhi Allahu Anha. Namun takdir menuliskan ketetapan lain. Sang Ummul Mukminin ini dimuliakan oleh Allah dengan dijodohkan untuk Rasulullah. Kenyataannya rasa itu masih terikat dengan baik. Perasaan tersebut masih disimpan hingga kemudian turunlah perintah larangan menikahi istri nabi sepeninggal beliau yang terabadikan dalam surah Al- Ahzaab ayat 53.

Sungguhlah firman Allah berada jauh diatas kecenderungan hati. Maka Thalhah pun mengurungkan niatnya dan akhirnya menikahi adik dari Aisyah Radhi Allahu Anha. Kelak, anak dari Thalhah yang bernama sama dengan Aisyah, yakni Aisyah binti Thalhah, di asuh dan dibesarkan oleh Ummul mukminin Aisyah, sang kekasih Rasulullah yang walaupun kecenderungannya tertolak dengan takdir namun tetap di lindungi keselamatannya oleh Thalhah bin Ubaidillah hingga titik darah penghabisan di perang Jamal.
Belum lagi kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis. Yang demi kasih sayang kepada istrinya, merelakan gadis yang dicintainya seumur hidup untuk menikah dengan pemuda yang lain. Perkataan yang begitu indah terekam oleh sejarah adalah ketika sang gadis pujaan hati tersebut bertanya kepada khalifah:

“Dulu engkau berniat menikahiku dengan begitu besarnya. Namun ketika saat ini aku ditawarkan oleh istrimu kepadamu, engkau malah menginginkan aku menikahi yang lain. Apakah sudah berkurang cintamu kepadaku wahai khalifah?”
Sang khalifah menjawab dengan beruraikan airmata:

“Bahkan cinta saat ini lebih besar dari dahulu kala.”

Cukuplah tiga kisah ini menjadi catatan kita bagaimana keimanan dan keshalihan mampu menghadirkan sisi manis dramatis penuh keindahan dari kisah cinta tidak sampai. Belajar dari para shahabat dan tabi-tabi-in, seharusnya kita sadar, cinta yang tidak terikat takdir bukanlah satu momok yang tidak akan berakhir dengan indah. Karena seharusnya semua kisah cinta berakhir happy ending.

Sejatinya cinta sendiri adalah sebentuk energi bagi kehidupan kita. Maka pada cinta berlaku hukum yang sepadan dengan hukum energy.
Hukum energi berbunyi: energi tidak dapat di hilangkan. Namun dapat berubah-ubah bentuknya. Maka cinta juga sejatinya tidak dapat di hilangkan, namun dapat diubah menjadi bentuk yang lain.

Selayak kisah Thalhah yang mengubah rasa cenderungnya kepada Aisyah dengan menikahi adiknya Aisyah demi mendapatkan kedudukan yang mulia dari keturunan Abu Bakar. Kelak, anaknya pun tetap memiliki seorang bibi yang mengajarinya langsung dari rasulullah. Walaupun sang anak tidak lahir dari Rahim Aisyah, namun ilmu dan pemeliharaannya sejak kecil hampir serupa dengan anak Aisyah. Bahkan dalam satu atsar dikatakan, Aisyah binti Thalhah mewariskan kecantikan serta keberanian serta keilmuwan Ummul Mukminin Aisyah.

Maka bila ada seorang ikhwan yang memiliki kecenderungan yang tertolak takdir, seharusnya rasa itu bukan dihapus. Namun alihkanlah kepada yang lain. Khitbah dan lamarkanlah muslimah yang lain, yang menurut kita memiliki kemuliaan selayak yang kita cenderungi dulunya. Ini lebih menenangkan daripada berusaha membunuh rasa yang telah Allah tetapkan ada dihati kita. Berusaha tidak jatuh cinta lagi, bahkan merasa cinta atau kecenderungan adalah sesuatu yang menyakitkan hati dan jiwa. Sungguh bila itu yang kita pilih, maka kita sedang memilih jalan cinta yang seharusnya berakhir happy ending menjadi sad ending.

Wallahu alam…

Artikel: Rahmat Idris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s