Sudut Kota

tugu

Nggak kerasa sudah lebih satu tahun saya tinggal di Yogyakarta. Di sudut- sudut kota ini banyak sekali pemandangan yang seperti biasa, tetapi sebenarnya sangat menarik untuk ditelisik lebih lanjut. Dimulai dari bapak pedagang koran dengan menggunakan jaket rompi yang belakangnya tertuliskan “Jual Pulsa”, mungkin bisa dibilang sebagai seorang pedagang koran dan pulsa keliling. Beliau biasa menjajakan jualan beliau di kampus kami, berjalan memutari sudut- sudut kampus, dari mulai di sekitaran kelas sampai kantin, bahkan perpustakaan dan kantor- kantor administrasi maupun dosen pun tak lepas dari jangkauan beliau…hmmm… sungguh luar biasa bukan? Seorang lelaki separuh baya yang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Tadi pagi ketika saya berangkat kuliah pun sempat berpapasan dengan beliau di pintu depan gerbang samping kampus kami.

cloud_sunsetTernyata di kota ini tidak hanya beliau saja yang terlihat berjuang mencari nafkah dengan mengindahkan rasa ini dan itu, yang penting halal pastinya. Yang selanjutnya masih ada para tokoh yang luar biasanya untuk keluarganya. Di sepanjang jalan yang diampit dua kampus negeri besar di Yogyakarta, ada beberapa bapak maupun ibu yang berjualan barang- barang yang biasanya diperlukan oleh para mahasiswa di tempat tinggalnya; ada bapak maupun ibu penjual keranjang tempat baju, topi, kerupuk, bunga anggrek, jajanan pasar, sampai baju lebih- lebih pada masa- masa ospek mahasiswa baru. Jika sore, saya pulang ke wisma menyusuri jalan, tak sedikit saya melihat beliau- beliau tersebut di pinggir jalan, bahkan ketika keesokan paginya saya lewat jua mereka sebagian masih di jalan menunggu para pembeli yang mungkin akan membeli barang- barang mereka, masyaa Allah.. sungguh luar biasa. Perjuangan orang tua untuk keluarga mereka di rumah, untuk menyekolahkan anak- anak mereka, untuk menyambung hidup, dan pastinya untuk tujuan yang mulia yaitu mereka tidak ingin meminta- minta. Mereka hanya ingin dagangan mereka laku, mendapat sedikit keuntungan dari barang yang mereka jual. Lalu apakah masih ada rasa untuk kita tidak bersyukur dengan keadaan kita sekarang? Kemudian apakah ada kesempatan bagi kita untuk mengeluh dengan tanpa disadari bahwa kita sebenarnya telah mendapatkan banyak nikmat dari Allah Ta’ala? Astaghfirullah, semoga kita terhindar dari perilaku dari suka mengeluh dan tidak bersyukur.

Kawan, semoga kita bisa selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada kita… semoga kita bisa berbakti kepada orang tua kita yang telah banyak berjuang untuk kita dari kita masih bayi sampai kita segedhe sekarang.

Doa untuk mereka yang selalu kita cinta:

“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”. (Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil)

*nasehat yang tertuju pada saya juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s