FLASBACK (Membuka Memori Tahun Kemarin)

 Maurice_River_at_Rt._Fortyfive

            Hari ini saya tepat berada di kamar wisma, di depan laptop, dan sedang berjibaku menyelesaikan proposal thesis yang belum kelar- kelar. Seharusnya proposal ini sudah saya selesaikan malam hari tadi, tetapi apa daya tengah malam sekitar pukul 12 malam, mata saya sudah tidak bisa dikompromi, berat, dan panas sekali, mungkin karena efek kacamata yang saya pakai, atau mungkin juga karena sejak dari pagi kemarin sampai sore sekitar pukul 4 sore saya di depan laptop duduk di perpustakaan Pascasarjana, entahlah yang benar mana, mungkin juga benar semuanya. Ternyata banyak kemungkinanan yaa..

            Sambil melanjutkan mengerjakan proposal thesis, saya sempat- sempatnya membuka facebook, maklum biar nggak begitu serius..

media-sos

Kemudian saya masuk ke laman home dan mendapati orang- orang sedang meng-update status facebook. Kemudian saya lanjut mengeklik beberapa group di facebook, akhirnya sampailah pada group yang mengumpulkan kami para penerima beasiswa Dikti universitas kami. Melihat- lihat kembali postingan dari jaman dahulu kala itulah yang saya lakukan, lumayan bisa me-refresh kepenatan di tengah mengerjakan tugas. Lalu sampailah mata saya tertuju pada beberapa postingan dari beberapa rekan yang mulai menggelitik. Saya jadi teringat beberapa bulan kemarin ketika beasiswa belum juga kunjung ditransfer ke rekening kami, padahal beberapa kawan sudah mulai kekurangan uang untuk biaya hidup. Dari situ mulailah rekan- rekan di group tersebut—yang tidak semua saya kenal dan saya tau – mengepost hal- perihal keluh kesah tentang keterlambatan beasiswa. Tak disangka malah timbulah perdebatan antara mereka. Saling emosilah yang terlihat dari kata- kata yang mereka lontarkan. Sungguh sangat disayangkan memang. Ada sebagian orang yang tidak sabar menunggu beasiswa cair dan ada sebagian orang lagi yang mencoba untuk sabar sampai beasiswa turun, termasuk saya karena saya merasa mungkin pemerintah RI masih sedang memproses beasiswanya, lagipula uang beasiswa yang ditransfer kemarin pun masih cukup untuk biaya hidup saat itu sehingga kesetujuan saya akan itu tak perlu saya wakilkan dengan komentar- komentar di sana, cukup dalam hati saja.

            Perdebatan- perdebatan itu akhirnya membuat saya memflash back memori tahun kemarin, ya pertengahan tahun 2013 kemarin, ketika kami para pencari beasiswa sedang galau menunggu pengumuman beasiswa Dikti. Dari sekian banyak pelamar akhirnya hanya beberapa saja yang diterima, tepatnya dari 14ribuan pelamar yang diterima kurang lebih sekitar 4ribu pelamar di seluruh Indonesia. Ya saat itu, saya merasa semua berada pada satu nasib yaitu sama- sama galau menunggu pengumuman beasiswa. Saya merasa itu pengalaman yang luar biasa karena bisa bergalau ria dengan beberapa puluh ribu pelamar di seluruh Indonesia..hehe. Dari kegalauan bersama itulah membuat kami yang belum sama sekali bertemu akhirnya bisa dekat. Eitsss…tapi hati- hati yaa..jangan sampai terlalu dekat dengan lawan jenis dan alhamdulillah saya sendiri hanya dekat dengan beberapa teman perempuan di facebook yang sampai sekarang belum pernah bertemu, sedangkan untuk teman- teman yang lawan jenis alhamdulilah tidak dekat, malah saya akhirnya me-remove beberapa dari mereka biar hati lebih terjaga.

Sayangnya, beberapa bulan setelah hasil pengumuman beasiswa Dikti, saya malah mendapati adanya perdebatan- perdebatan mengenai beasiswa itu, entah karena pencairan beasiswa entah apalah itu. Sungguh sangat disayangkan, bukan?

Tapi saya yakin bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini pasti ada hikmah di dalamnya, begitu pula dengan hal ini. Dalam mengarungi hidup, kita memang butuh sabar, butuh yang namanya bersyukur, dan butuh yang namanya life planning. Kenapa bisa? Ya karena ketiga itu sebenarnya saling berkaitan, menurut saya. Okey, mari kita coba hubungkan. Yang pertama, ilmu sabar itu ilmu yang tinggi karena belajarnya tiap hari dalam menghadapi hidup dan ujiannya pun tiba- tiba. Yang kedua, kita juga butuh rasa bersyukur karena tanpa rasa bersyukur, kita tak akan pernah puas. Sungguh menakutkan bukan? Ketika kita tak pernah puas akan nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Padahal nikmat itu selalu kita dapatkan setiap detiknya, kalau kita berfikir jika nikmat itu dicabut beberapa detik saja, kemudian apa yang kita lakukan untuk bernafas jika nikmat oksigen yang gratis didapat itu dicabut. Kemudian yang ketiga yaitu life planning. Dalam hidup, kita harus punya perencanaan hidup. Tanpa itu, kita akan kehilangan arah, selayaknya sang pengemudi yang berjalan tanpa peta padahal berada di daerah asing yang belum dia tau sebelumnya. Nah, kalau pun sudah punya life planning, kita pun selanjutnya harus mengkombinasikannya dengan dua elemen di atas agar kebahagiaan di dapat. Bukankah seperti itu yang seharusnya kita lakukan dalam hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s