Talking to the Silence

autumn park

Berbicara dengan hampa. Entah kenapa, saya sangat suka berbicara di ruang hampa yang jauh- jauh dari kemeriahan orang- orang bercakap- cakap. Saya lebih suka duduk di pojokan perpustakaan, atau di dalam kamar, atau kadang kala duduk memandang takjub pemandangan dari jendela bus kota maupun kereta sambil berbicara dengan hampa karena disitu saya bisa berbicara dengan diri sendiri.

Inilah yang akhirnya membuat saya akhirnya sibuk dengan diri sendiri, tersibukkan dengan diskusi monolog dengan materi yang beragam, dari masalah masa depan, kesalahan diri, keluarga, teman, dan sampai apa tujuan hidup diri. Hal- hal in yang membuat saya terdiam tanpa kata, seperti ditampar dengan tangan sendiri ketika ternyata saya menemui diri saya masih jauh dari apa yang dikatakan baik, padahal umur semakin hari semakin berkurang, tetapi kenyataannya saya masih berdiri di tempat yang sama di satu titik dimana bekal hidup untuk akhirat saya masih kurang dan malah ditambah dengan dosa- dosa yang saya rasa semakin menumpuk. Entah..apa yang saya katakan pada Allah Ta’ala ketika sedetik kemudian Dia memanggilku.. Astaghfirullah.

Ya Rabb, semoga kesempatan hidup yang masih ada untuk saya ini bisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan beribadah tekun, beramal baik, memperbaiki akhlak, meminta maaf pada orang- orang yang pernah saya dholimi, dan bisa memaafkan orang yang telah mendholimi saya. Aamiin..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s