“Different”

           winter_

“Berbeda” mungkin kata yang tepat untuk saya sekarang ini. Hanya sekedar merekam jejak saya dahulu dengan saya yang sekarang. Yaa…hanya sekedar ingin flashback, hanya sekedar itu, tidak ingin membandingkan mana yang baik dan mana yang buruk.

            Saat ini saya sedang berada di dalam kamar wisma saya di Yogyakarta sambil tersenyum kecil mengingat kejadian di pagi itu. Ya pagi itu, sebenarnya bukan kejadian yang luar biasa, tetapi kejadian yang biasa saja yang akhirnya mengantarkan saya untuk menulis tentang cerita ini, tepatnya cerita saya bukan cerita kita.. hehe

            Pagi itu langkah kaki saya terhenti saat melihat mading yang terpapang di gedung Pascasarjana di kampus saya. Di sana tertuliskan susunan pengurus organisasi kampus, beberapa saya mengenalnya, tetapi beberapa tidak. Akan tetapi, di sini saya tidak ingin membicarakan mengenai mereka yang tertuliskan di sana, saya hanya ingin membicarakan tentang saya sendiri. Entah mengapa dari membaca susunan pengurus itu membuat saya seperti melayang di jaman saya kuliah S1 dahulu. Kemudian terbesit pikiran seperti ini: jika prioritas saya saat ini seperti saya di jaman itu mungkin juga nama saya akan tertuliskan di sana, ya di papan itu. Jika saya masih seperti yang dahulu, mungkin saya akan sangat rajin menghadiri rapat organisasi sampai sore kemudian dilanjutkan mengerjakan tugas kuliah yang lain. Ya..semua banyak kemungkinan.

            Saya sangat mensyukuri atas apa yang telah terjadi pada saya. Tidak ada yang tabu untuk dibicarakan karena saya memang tergolong mahasiswa yang lurus- lurus saja (red: tidak neko- neko..hehe). Yang berbeda hanyalah, dahulu saya seorang aktivis mahasiswa yang kerjaannya “kura- kura”, yaitu “kuliah rapat, kuliah rapat”, sedangkan kerjaan saya sekarang “kunga-kunga (kuliah ngaji, kuliah ngaji)” ^___^

Jika dibandingkan pasti berbeda, bukan?

            Sekedar cerita saja, dahulu saya dipanggil sebagai seorang aktivis mahasiswa, bukan karena saya suka demonstrasi loh ya. Sangat bukan malah…karena untuk soal ini saya sangat tidak setuju. Kenapa saya dipanggil demikian karena saya mengikuti beberapa organisasi di kampus seperti di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berjalan di bidang jurnalistik berbahasa Inggris, Indonesia Green ynag bergerak di bidang lingkungan, organisasi perkursusan bahasa Inggris, dan Alumni Career and Employment Center yang biasa disingkat ACEC. Nah kalau ACEC ini seperti CDC (Career Development Center) di beberapa universitas di Indonesia, yang berada di bawah rektorat dan ini bersifat lebih formal karena berhubungan langsung dengan HRD perusahaan yang bekerjasama dengan universitas kami. Aktivitas itu saya jalani sembari juga aktif di bidang perkuliahan sebagai asisten dosen speaking yang biasa mengisi tambahan kelas di hari Sabtu untuk mahasiswa semester bawah. Motto saya saat itu meskipun sibuk seberapa pun saya masih harus tetap rajin kuliah dan tetap rajin mengikuti penelitian yang biasa diselenggarakan oleh Dikti.

            Aktivitas yang padat mungkin itu kata- kata yang tepat untuk saya saat itu. Bisa dibayangkan, dengan banyaknya kegiatan yang harus saya jalani, dengan sangat santainya saya tidak nge-kost di dekat kampus, padahal jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, sekitar satu jam waktu tempuh saya. Alhasil, saat itu saya menganggap rumah sebagai tempat transit saja, hanya sebagai tempat untuk tidur, mencuci baju, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang, disebabkan karena sibuknya aktivitas saya di kampus, saya harus menginap di rumah atau kost teman. Salah satu hal yang sangat berkesan adalah saya harus menginap di tempat teman saya untuk menyelesaikan PKM bersama anggota kelompok saya yang lain, yang pastinya perempuan. Orang tua saat itu juga sama sekali tidak melarang, mereka mengijinkan karena saya memang tipe anak yang tidak neko- neko, aktivitas yang saya lakukan masih dalam jalur aman. Saya masih menjaga kaidah dalam bergaul, meski sekarang jika mengingatnya membuat saya malu sendiri karena sekarang saya merasa dahulu terlampau bermudah- mudah dalam urusan, misalnya ketika rapat, antara laki- laki dan perempuan tidak ada hijab atau pembatas, dimana hijab ini sebenarnya akan membuat kami tidak saling berinteraksi langsung. Akan tetapi, ketidakadaan hijab tersebut akhirnya membuat kami langsung berinteraksi, menyampaikan argumen, maupun memperdebatkan sesuatu hal dengan biasa saja, astaghfirullah. Saat itu saya juga terkenal sebagai orang yang ulung dalam berargumen, berdebat, dan bereorika. Hmm..jaman itu, pikir saya saat ini.

            Yah..itu dahulu, tetapi sekarang berbeda. Dahulu sering berdoa agar bisa berkumpul dengan orang- orang yang sholehah yang bisa membawa saya ke arah yang lebih baik dan alhamdulillah sekarang saya dipertemukan dengan mereka. Sekarang saya merasa berbeda, hal- hal dahulu yang menjadi hobi saya untuk mendapat pengalaman baru untuk berorganisasi, sekarang sepertinya tidak membuat saya antusias seperti dahulu. Hal yang membuat saya sangat antusias adalah bisa berada di majlis ‘ilmu bersama orang- orang sholehah dengan menimba ilmu dari para ustadz maupun ustadzah. Lezat yang sungguh ketika bisa menghafal ayat- ayat suci al Qur’an, bukan lagi menghafal lirik- lirik lagu Indo maupun manca negara. Kegiatan yang sangat menarik adalah bisa mengajar TPA di daerah Pogung Yogyakarta dimana antara ikhwan dan akhwat benar- benar dipisah. Hal- hal yang luar biasa yang bisa kita temukan di kota Yogyakarta dan tidak menutup kemungkinan bakal juga ditemukan di tempat- tempat yang lainnya.

            Kalau saya mengingat jaman S1 dahulu, Masyaa Allah…luar biasa bersyukurnya saya karena saya telah mengalami berbagai kegagalan maupun pernah juga merasakan keberhasilan. Betapa Allah Ta’ala luar biasa merencanakan hidup saya sedemikian rupa sehingga saya bisa belajar dari berbagai serpihan- serpihan hidup saya tersebut sehingga mengantarkan saya ke masa yang sekarang. Mozaik- mozaik itu akan terus tersusun selama saya masih hidup di dunia ini dan akan terus berlanjut sampai saya akhirnya hidup di alam akhirat kelak. Semoga apa yang saya lakukan di dunia ini bisa menjadi tabungan saya di akhirat kelak sehingga meski saya hidup di dunia dan masih menggenggam dunia di tangan, tetapi masih menempatkan akhirat di hati saya. Aamiin.. J

Senyum dan cinta selalu tersematkan untuk orang- orang terkasih yang telah menghiasi hidup saya. Dimana cinta saya untuk mereka tidak lebih besar dari cinta saya untuk Rabb sang pemilik kehidupan dan Rasul- Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s