Kilas Balik

time

Di bulan yang sama, bulan Maret, satu tahun yang lalu saya masih mengajar di sebuah sekolah Islam di Solo, menyiapkan bahan ajar, menghadapi murid yang nakal, dan mencoba bersabar dengannya. “Ah, anak- anak labil”, batinku saat itu. Satu tahun kemudian saya tengah berada di ruang belajar mengajar di sebuah sekolah Pascasarjana di salah satu universitas di kota Jogja untuk melanjutkan studi lanjut.

Satu tahun lalu, saya tengah sibuk menyiapkan berkas- berkas beasiswa, mencari bapak Rektor S1 untuk mendapat surat rekomendasi, mencari bapak Kajur S1 untuk mendapatkan pengesahan melanjutkan studi lagi, dan bolak- balik Solo- Jogja untuk mengantarkan berkas di kala itu. Satu tahun kemudian, saya tengah menikmati nikmat dari Allah Ta’ala untuk belajar menjadi sosok yang lebih baik lagi dengan menggunakan beasiswa Dikti. Alhamdulillah..🙂

Satu tahun yang lalu, saya menganggap tidak mungkin bagi saya untuk belajar bahasa Arab karena sulit dan memang belum ada kesempatan di kala itu untuk mempelajarinya. Satu tahun kemudian, saya menikmati nikmat yang kesekian kalinya dari Allah Azza wa Jalla untuk belajar bahasa Arab di kota Jogja ditengah kesibukan kuliah S2 dan akhirnya mengubah mindset saya bahwa belajar bahasa Arab itu mudah asal tekun. Masyaaa Allah, bahagia.

Satu tahun yang lalu, saya masih memakai jilbab yang sepanjang hanya agar bisa menutupi dada. Satu tahun kemudian, saya sudah mulai menjulurkan jilbab saya lebih panjang lagi sampai menutup siku tangan. Masyaa Allah, bahagia rasanya bisa memakai hijab seperti ini.

Satu tahun yang lalu, saya masih berumur 23 tahun, dan satu tahun yang lalunya lagi ketika saya memakai toga untuk wisuda S1, saya masih berumur 22 tahun. Berasa tahun ini lebih dewasa. Dan saya tidak mengetahui sampai kapan saya diberi waktu untuk hidup di dunia ini.

Waktu memang berasa begitu cepat. Banyak orang yang datang, banyak pula orang yang meninggalkan kita karena hakikatnya setiap orang memiliki kepentingan dalam hidupnya sendiri- sendiri, entah dari kepentingan keluarga, pekerjaan, bahkan ke kepentingan studi.

Bicara mengenai waktu bagi saya begitu menakutkan karena dia bisa menjadi sebuah pedang bagi kita, tetapi juga bisa sebagai mutiara untuk kita. Itu semua pastinya tergantung dari apa- apa yang kita kerjakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s