Hanya Sebuah Kata Galau

image

“Bagaimana mungkin ada siang jika tanpa malam dan bagaimana mungkin pula ada aku jika itu tanpamu….”

Tulisan di atas itu adalah kata- kata gombal yang aku rangkai dalam waktu beberapa detik saja aku duduk di perpustakaan pusat kampusku ini. Mencoba menulis, tetapi malah rangkaian kata tersebut yang datang di kepalaku.  Itu sebenarnya bukan karena saat ini aku sedang galau. Tentu bukan. Bukan sekali malah. Bukan.

Taukah, kawan.. ketika seorang penulis menulis pengulangan kata dengan menyatakan ketidakan seperti di atas maka bisa dipastikan bahwa dia sedang mengiyakan atas pernyataannya. Aku sebenarnya juga tidak mengetahui apakah teori ini berlaku untuk semua orang, tetapi yang pastinya untuk saat ini hal ini berlaku padaku. Ya mungkin seperti dalam makna pragmatik dimana bahasa yang dituturkan memiliki hubungan dengan si penuturnya. Hal itu mencangkup pula pada tataran makna. Oke, berhenti dulu membahas mengenai teori- teori bahasa. Yang pastinya untuk saat ini apa yang aku sanggah berarti itu iya……tetapi perlu ditekankan bahwa hal itu berlaku hanya untuk tulisan ini, itupun hanya pada pengulangan kalimat terakhir pada paragraf di atas.

Well, untuk selanjutnya tidak ada pembalikan makna..🙂

Berbicara tentang “galau”, mungkin hal ini bisa disandingkan dengan kata “hati”. Kemudian bisa membentuk frase “hati galau” yang berarti “hati yang galau”. Frase ini pun bisa dihubungkan dengan kata “remaja”. Kemudian nantinya kata- kata itu akan membentuk makna “hati remaja yang galau”. Selanjutnya penulis akan menunjuk diri sendiri ^^ *senyum sejenak

Akan tetapi, jangan kebanyakan senyum loh.. karena hati remaja yang galau itu meruapakan sesuatu hal yang biasa. Kenapa biasa? Ya karena secara umur si penulis ini juga sudah menginjak pra dewasa (paling tidak masih terhitung dalam usia remaja), buktinya sekarang sudah menginjak kepala dua dengan kelebihan beberapa tahun. Akan tetapi, kalau dikatakan sudah dewasa banget juga belum karena masih di bawah 25 tahun. Kemudian untuk masalah pendidikan, juga sudah cukup matang yaitu masih dalam proses menyelesaikan studi pascasarjananya dimana nanti Insyaa Allah akan selesai sekitar satu tahun lagi. Jadi, kalau galau bukankah itu wajar- wajar aja, dan mungkin bisa dikatakan wajar aja jika kebanyakan teman- temannya saat ini juga sedang galau.

Meskipun si penulis ini sedang galau, tetapi masih suka menganalisis- menganalisis hal- hal yang sebenarnya kurang penting juga, yaitu dimulai dari jejaring sosial. Jika kita melihat orang- orang yang ada di jejaring sosial, kita bakal melihat banyak orang yang bertumpah- tumpah mengeluarkan uneg- unegnya dalam hati dan ini berlaku  juga untuk orang yang galau.

Ini sih hanya menurut pandangan pribadi si penulis bahwa untuk orang yang galau tanpa kontrol dan ditambah dengan yang belum punya calon pasangan. Mereka biasanya akan mengunduh foto cantik/ cakep mereka kemudian menuliskan kata- kata yang menunjukkan bahwa mereka sedang lajang. Kenapa? kalau untuk kenapa, sebenarnya banyak sekali alasan tetapi di sini penulis pribadi tidak ingin menghukumi siapa pun.

Kemudian untuk orang- orang yang galau dan mencoba untuk mengontrol, mereka akan menggunakan kata- kata bijak dalam mewakili hatinya dan tidak mau mengunduh foto- foto cantik/ cakepnya ke publik karena mereka inginkan adalah  kecantikan dan ketampanannya hanya untuk suami/ istri mereka.

Nah, sekarang tinggal kalian masuk ke tipe galau yang bagian mana? ^^

Buat yang ingin menganalisis tipe kegalauan penulis menurut teori pribadi si penulis di atas, bisa loh cek di account ini: https://www.facebook.com/anasetyo.watii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s