Hanya Sebuah Puisi

scenery

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat=====================================================================

Puisi yang kudengar pertama kali saat aku masih SD, tepatnya aku lupa kelas berapa. Puisi yang menceritakan tentang kepenatan diri. Penyakit yang kadang muncul di dalam diri seseorang, tak luput juga aku juga merasakannya.

Diri kadang ingin berlari untuk menghindari semua kerumunan di tengah hingar bingar dan kebisingan kota. Berlari dan terus berlari kemudian berteriak di tengah keheningan. Hal yang menyenangkan bukan? Mungkin juga bakal akan menyenangkan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s