Aku Cemburu Padamu Yaa Ukhti… (repost)

DayNight_by_slickslick

Hari itu Jum’at, 3 Februari 2012 awal ku beranjak denganmu….

Ku saksikan dirimu dari atas hingga bawah, ku pandangi berulang kali lewat sudut mataku dan aku pun tertunduk saat ku dapati bayangan diriku yang begitu nampak jelas. Kainmu terjuntai lepas… sedang aku.. hanya berlapiskan kain selengan yang terkesan minus dalam berhijab.

Ku toleh lagi dirimu, kali ini dari bawah hingga atas, ku rasakan keteduhan jiwa di dalam sana melalui pelupuk batinku. Ku pandangi cermat-cermat bayangan diriku yang bersandar di balik pepohonan, dan ku temui rasa malu kepadamu. Ku dengarkan perlahan bisikan hatiku “Aku Cemburu Padamu yaa Ukhti

“Aku Cemburu Padamu yaa Ukhti

… atas hijab yang kau kibarkan dengan sempuna menutupi tubuhmu’ hingga akupun yang menjadi mahrammu hanya mampu mengintip dari mata sipit yang tersipu itu

Ku teruskan langkah mengirimu melewati petak-petak kecil, secara diam-diam bertambahlah luapan jeritanku “aku makin cemburu padamu yaa ukhti…”

Pandangan yang benar-benar kau tundukkan saat kumbang-kumbang tak dikenal menyinggapi bayangan langkahmu, suara kecil, pelan, penuh kelembutan yang sontak kau lontarkan membalas salam mereka dengan senyuman, sekalipun dalam keadaan itu, lagi lagi ku hanya dapat cermati lewat bola mata yang kembali tersipu di bawah sinar mentari sore kala itu.

Berjalan terus kita melangkah hingga terhenti pada sebuah rumah sederhana tujuan kita. Rupanya, engkau menggiringku ke suatu majelis.’

Asing. Sangat asing rasanya yaa Ukhti… merasakan keberadaanku yang terkesan konyol dengan kain-kain pendek, cerah nan ceria yang menutupi badanku apa adanya. Terlebih bila menyaksikan kawan-kawanmu yang lain, yang serupa denganmu, serasa betul-betul aku datang dalam keadaan yang salah, menelanjangi diri dengan berbagai fikiranku.

 

Ku tarik nafas dalam-dalam…

Ku coba tenang dalam duduk.

Berbincang satu dua kata dengan wanita-wanita mapan yang baru saja kau kenalkan padaku. Hanya terucap jawaban ‘iya.. tidak…’ dari mulutku.

Suasana berganti saat sang Ustadz memulai ta’limnya…

Ku duduk dengan malu-malu pada barisan pertama, tepat di hadapan hijab kuning yang menempel pada untaian tali dari dinding satu ke dinding lainnya. Ku terdiam. Menyimak. Ku lirik lagi keadaan sekelilingku. Betapa berbedanya aku yaa Allah, apakah aku terlalu jauh dan sudah sejauh ini dariMu ? ku lirik pula sembunyi-sembunyi kitab yang sedang kau pegangi. Dan lagi-lagi ku dapati diriku dalam ketidakpemahaman yang begitu dalam, hingga ku putuskan kembali fokus pada penyampaian sang Ustadz. Dan kemabali ku rasakan diriku dalam ketertinggalan akan pemahaman ajaranNya. Ingin ku menangis saat itu. Tapi betapa malunya aku. Ku tahan isakku dalam dada.

Pikiranku kembali teralihkan saat memperhatikan sampul pink dari kitab yang kau pegangi itu yaa Ukhti,, dan kali ini ku saksikan akalku dalam sedikit pengetahuan, ku baca “Nashihati lin-nisaa

Ku putar kembali kendali akalku dan ku simpulkan bahwa penyampaian sang Ustadz adalah isi yang kau simak dari itu.

Aku pun kembali cemburu padamu yaa Ukhti…

Atas pemahamanmu akan kalam-kalam Allah

Atas kedekatanmu pada Rabb-ku

Atas kekhusyukanmu dalam menerjemah ilmuNya

Sedang aku, hanya sibuk dengan dunia yang benar-benar melelahkan tanpa memahami tujuan yang ku jalani semua ini.

Dalam arungan fikiranku tanpa arah kesana kemari, dalam ketidakcakapanku memanfaatkan waktu hidup ini yang begitu singkat, ku tangkap jelas seruan sang Ustadz mengakhiri ta’limnya memperingati kami, kaum hawa di balik hijab yang tersingkap itu : “Dan tetaplah kamu di rumahmu…”

Seketika itu, terhempaslah batin ini merenungi aktivitas rutin yang sebagian besar ku jalani hampir setengah malam di luar rumah.

Tanpa ku sadari satu per satu kain-kain panjang itu bergerak, dari arah kiri, kanan dan belakang, ternyata sang Ustadz telah mengakhiri tausiyahnya kali ini. Ku tersadar dari lamunan beberapa menit yang ku ratapi.

Aku pun beranjak dan sontak ku tercengang melihat pancaran cahaya-cahaya Allah yang engkau tutupi sejak tadi. Di wajahmu secara jelas ku tangkap bayangan sinar-sinar wudhu yang rutin engkau basuhkan. Ditambah lagi senyuman manis yang tersungging dari bibirmu menambah kesempurnaan ciptaan Allah yang dititipkan padamu, yang kau jaga secara sempurna dengan hijab lengkap yang kau kenakan itu yaa Ukhti… dan kali ini, aku tidak salah menyimpulkan, ku pandangi lekat-lekat wajah saudarimu yang lain, dan ku dapati sama, pancaran sinar keimanan, kelemahlembutan dan hati penuh kasih ku saksikan makin jelas di benakku.

Diantara cahaya mentari yang makin memudar menyelinap di antara celah-celah kecil rumah keteduhan itu, seakan ku melihat surga Allah melalui jalan keimananmu yaa Ukhti…

Lanjut lagi, Ku langkahkan kaki bersamamu, menapaki jalan-jalan kecil berbatu setengah beraspal yang kita jejaki sebelumnya. Sepanjang langkah, batinku terus bergeming :

Aku cemburu padamu ya Ukhti, atas hijab yang kau jaga rapi di luar rumahmu..

Aku cemburu  padamu yaa Ukhti, atas pengenalanmu pada agama Allah yang begitu dalam

Aku cemburu  padamu yaa Ukhti, atas wudhu yang kau jaga tiap  waktu

Lagi lagi,,, Aku cemburu  padamu yaa Ukhti, atas kelembutan hati yang tercipta dalam kecintaan Allah dan Rasul-Nya

Dan betapa Aku cemburu  padamu yaa Ukhti atas keistiqomaanmu menghadapi cercaan orang di luar sana atas hijab yang kau jaga itu

Dan betapa aku makin cemburu  padamu yaa Ukhti, atas keimananmu dalam menegakkan perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupmu

Betapa banyak lisan yang mengakui Allah sebagai Rabb-Nya dan Muhammad sebagai Rasul-Nya namun sering kali mengacuhkan bahkan mencerca terlebih menghina perintah yang diserukanNya. Berbeda dengan dirimu, yang kokoh berjalan di atas kebenaran itu. Terlebih jelas berbeda dengan diriku yang terkesan setengah-setengah menegakkannya. Padahal, dalam sadarku selalu berkeyakinan bahwa mautku dapat datang kapan saja, dari arah manapun yang tak ku duga-duga, dan apakah aku akan diambil dalam keistiqomaan seperti dirimu saat ini, ataukah aku akan kembali sebagai orang yang merugi…??

Ya Illahi…

Aku hanya manusia biasa yang begitu lemah, yang tak memiliki daya dan upaya selain pertolongan dari-Mu

Tolonglah akidah hamba, dekatkanlah hati ini kepada-Mu, tumbuhkanlah kecintaanku padaMu seperti yang engkau tumbuhkan pada mereka yang mencintaiMu

Tuntunlah lisan ini dalam kelemahlembutan dalam bertutur, lindungilah aku ya Allah dari kata-kata yang tak bermanfaat dan menyakitkan bagi orang lain. Jadikanlah diam sebagai penjaga untuk lisanku ya Rabbil Izzati…

Pagarilah fikiran ini dari sifat su’udzan  akan perintah dan seruanMu sehingga aku dapat melangkah ke jalan keistiqomaan seperti yang diyakini oleh bidadari-bidadari syurga yang Engkau perlihatkan padaku petang ini…

Sekali lagi, dan akan ku ingati berkali-kali…

“Aku cemburu  padamu yaa Ukhti, atas segala kebaikan, rahmat dan hidayah yang Allah curahkan pada hati, lisan dan setiap jejak langkahmu…”

Bagiku,,, engkaulah hijabers sejati…

Kendari, 13 Februari 2012

_Kerinduan bersama Ukhtiku tersayang sedang membuncah­­­_

Penulis: Nurhidayati

http://raudhatulqaanitah.wordpress.com/2013/10/21/aku-cemburu-padamu-yaa-ukhti/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s