PERKEMBANGAN KOGNITIF PRAWICARA PROSODIK

image

Bismillah..

Perkuliahan pascasarjana tahun ini sudah dimulai. Seperti mahasiswa biasanya, kami disibukkan dengan berbagai paper ari berbagai mata pelajaran yang ditawarkan kepada kami. Mungkin hal itu menjadi hal yang biasa didengar ya “mahasiswa pasti tersibukkan dengan tugas, paper salah satunya”. Akan tetapi, hal itu menjadi luar biasa ketika tugas itu sudah bisa terselesaikan, yaa senyum bahagia sudah bisa mengembang, kerutan dahi yang mengisyaratkan was -was sudah hilang bersamaan selesainya tugas tersebut. Nah, biar tugas ini nggak hanya tertumpuk di file- file saya, jadi saya memutuskan untuk menge-share-nya agar tambah pula manfaatnya karena dibaca. Buat teman- teman yang ingin nambah referensi atau pun bahan bacaan sekedar mengisi waktu luang, tulisan ini bisa jadi penambah2 pengetahuan. Kalau ingin mengambil beberapa hal dari tulisan kelompok saya, saya harapkan jangan langsug copy-paste ya..teteapi cupliklah dengan sesuai tata kramanya.. (baca: jangan plagiarism). Well, semoga bermanfaat..🙂

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

PENDAHULUAN

Setiap bayi yang lahir sebenarnya telah memilki suatu program yang dapat menyesuaikan diri mereka dengan lingkungan dalam berbahasa, agar nantinya mereka mampu menguasai bahasa yang berkembang di tempat mereka tinggal. Dalam pembelajaran bahasa, seorang anak terlebih dahulu akan memahami bahasa sebelum mengeluarkan bahasa. Dalam artian bahwa seorang bayi tidak dapat mengucapkan suatu kata secara berarti sebelum mereka mampu mendengar dan memahami kata dari penutur yang lain, sehingga sebagian besar ketidakmampuan bayi yang baru lahir berasal dari ketidakmampuan mereka dalam memahami kata maupun isyarat yang digunakan orang lain. Akan tetapi, ketidakmampuan ini akan berkurang saat awal tahun kehidupan, yaitu pada saat seorang anak mampu mengendalikan otot yang dibutuhkan dalam membantu mekanisme komunikasi mereka.

Pada periode tahun 1960 muncul seorang linguis bernama Chomsky dengan teorinya Transformational Generative Grammar (Tatabahasa Transformasi Generatif) pada tahun 1957. Kemajuan di bidang teknologi, seperti adanya tape recorder dan alat perekam, perhatian terhadap perkembangan bahasa anak makin meningkat. Dengan suatu alat, bahasa anak dapat diselidiki, dengan merekam dan kemudian menganalisanya.

KOMPONEN FONOLOGI

Pada umumnya bunyi yang terletak di bagian depan mulut lebih mudah daripada yang di bagian belakang mulut. Dengan demikian /p/ dan /b/ adalah lebih mudah daripada /k/ dan /g/. Kaitannya adalah bahwa bunyi yang dikuasai anak mengikuti urutan universal di atas karena /m/ adalah bilabial dan karenanya mudah, dan karena /a/ adalah juga mudah maka bunyi /m/ dan /a/ akan keluar lebih awal pada ucapan seorang anak. Urutan pemunculan bunyi bersifat genetik dan karena perkembangan biologi manusia itu tidak sama maka kapan munculnya suatu bunyi tidak dapat diukur dengan tahun atau bulan kalender. Yang harus dipegang sebagai patokan adalah bahwa suatu bunyi tidak akan melangkahi bunyi yang lain. Tidak akan ada anak Indonesia yang sudah dapat mengucapkan /r/ tetapi belum dapat mengucapkan /p/, /g/ dan /j/. Kapan bunyi-bunyi ini akan muncul berbeda dari satu anak ke anak yang lain.

Lebih jauh lagi, dari hasil penelitian para tokoh ahli, untuk pertama kalinya aspek sintaksis dari bahasa anak diuraikan dengan sistematis dalam bentuk “tatabahasa” anak yang dinamakan Pivot Grammers. Sedangkan, istilah tata bahasa digunakan secara bergantian untuk maksud representasi internal bahasa dalam benak seseorang dan model linguis atau dugaan atas representasi itu. Tata bahasa mengacu pada keseluruhan pengetahuan bahasa seseorang. Tata bahasa tidak hanya menyangkut masalah tata kalimat, tetapi juga fonologi dan semantik.

TATA BAHASA

FONOLOGI                           SINTAKSIS                           SEMANTIK

Pola bunyi                            pola kalimat                            pola makna

Aspek semantik juga mulai menjadi perhatian sejalan dengan munculnya teori kognitif yang beranggapan bahwa dalam perkembangan seorang anak harus pula diperhatikan termasuk perkembangan kognisinya. Pada dasarnya, belajar adalah aktivitas anak saat berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subjektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi objektif sesuai tingkatan umurnya. Aktivitas mental anak terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut “skema/rangkaian” tahap pemikiran atau pola tingkah laku.

PROSODI

Prosodi merupakan intonasi dalam berbicara yang meliputi ritme dan stress. Prosodi juga merefleksikan             berbagai fitur ucapan oleh pembicara. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keadaan emosional seorang pembicara, apakah ucapan itu suatu pernyataan, pertanyaan, maupun perintah. Untuk prosodi dalam bahasa lisan biasanya melibatkan variasi panjangnya suku kata yang diucapkan, selain itu juga penyaringan dan frekuensi suara. Sedangkan dalam bahasa isyarat, prosodi melibatkan irama, panjang, dan tegangan gerak, dengan ekspresi wajah dalam mengucapkan. Dalam bahasa tulisan, prosodi bisa dilihat pada tanda baca yang digunakan oleh penulis yang meliputi tanda baca seperti koma, tanda seru, tanda tanya, dan lain-lain.

Dalam proses fonologi, anak-anak pada mulanya akan memperhatikan keadaan sekitar dan akan mengidentifikasi secara sederhana mengenai persamaan dan perbedaan yang penting baginya dalam lingkungan tersebut. Dalam hal ini mereka akan peka terhadap sifat-sifat manusia tertentu yang didengarnya berulang-ulang dalam konteks yang sama, seperti pola-pola tekanan, irama, ritme, dan fitur-fitur lain yang berhubungan dengan keadaan yang berulang-ulang tersebut. Pada masa ini, bayi sudah mulai belajar fonologi secara sederhana. Mereka sudah mulai berfikir untuk mengekspresikan perasaan mereka dalam wujud prosodik melalui tekanan dan irama ataupun ritme bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh bayi-bayi tersebut, meskipun pada tahap awal mereka belum memproduksi bunyi yang berkaitan dengan sintaksis dan semantik (belum beraturan).

KOGNISI DAN PRAWICARA / PRESPEECH

Istilah kognisi masih berkaitan dengan peristiwa mental yang terlibat dalam proses pengenalan tentang dunia yang juga melibatkan pola pikiran atau berpikir. Seperti yang telah dijelaskan dalam Chaer (2009), secara umum kognisi bisa dianggap bersinonim dengan kata berpikir atau pikiran.

Komunikasi pada bayi pun berbeda dengan komunikasi pada anak yang telah menginjak dewasa. Komunikasi pada bayi dikenal dengan nama wicara karena wicara merupakan kontinum bunyi bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Hal ini tentunya berbeda dengan bicara yang merupakan bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata- kata untuk menyampaikan suatu maksud karena esensinya berbicara tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yakni kemampuan menghubungkan arti dengan bunyi yang dihasilkan, sedangkan prawicara memiliki arti tahap dimana seorang bayi sebelum adanya kontinum bunyi bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi.

PERKEMBANGAN KOGNITIF

Jean Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Piaget menyatakan jika seorang kanak-kanak dapat menggolong-golongkan sekumpulan benda-benda dengan cara-cara yang berlainan sebelum kanak-kanak itu dapat menggolong-golongkan benda-benda tersebut dengan menggunakan kata-kata yang serupa dengan benda-benda tersebut, maka perkembangan kognisi dapat diterangkan telah terjadi sebelum dia dapat berbahasa. Menurut teori pertumbuhan kognisi, seorang kanak-kanak mempelajari segala sesuatu mengenai dunia melalui tindakan-tindakan dari perilakunya dan kemudian baru melalui bahasa. Perilaku kanak-kanak itu merupakan manipulasi dunia pada satu waktu dan tempat tertentu; dan bahasa hanyalah salah satu alat yang memberikan kepada kanak-kanak itu satu kemampuan untuk beranjak lebih jauh dari waktu dan tempat tertentu itu.

Piaget juga menyatakan bahwa bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar; maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Urut-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa.

Ada beberapa tahap dalam perkembangan kognitif anak dalam pandangan Piaget. Tahapan tersebut saling berkorelasi dan semakin cangih seiring pertambahan usia. Tahapan-tahapan tersebut adalah

1. Tahap sensomotorik (usia 0 – ± 2 tahun)

Tahap sensomotorik merupakan tahap pertama dalam perkembangan kognisi anak, dan berlangsung pada sebagian dari dua tahun pertama dalam kehidupannya. Pada tahap ini, anak memperoleh pengalaman melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indera). Pada awal tahap ini bayi belum membedakan dirinya dari isi dunia lainnya, dan tingkah lakunya terbatas pada penggunaan pola-pola respon baru. Urutan perkembangan yang pertama pada tahap ini adalah penggunaan panca indera, kemudian pada bagian kedua tahun pertama adalah kemampuan motorik.  Lalu, pada tahun kedua muncul koordinasi dari dua kemampuan awal ini. Pada akhir periode sensomotorik, bayi dapat berpikir tentang dunia, yaitu yang berhubungan dengan pengalaman- pengalamn dan tindakan- tindakan yang sederhana.

2. Tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun)

Kanak-kanak pada usia antara satu sampai dua tahun mengalami munculnya satu peristiwa yang disebut fungsi simbolik. Kemunculan fungsi simbolik ini menandai dimulainya tahap praoperasi. Fungsi simbolik merupakan kepandaian kanak-kanak untuk membedakan apa yang disebut dengan significant atau lambang dengan apa yang disebut dengan significate, yaitu objek atau benda yang dilambangkan oleh significant tersebut. Pada tahap sensomotorik, kanak-kanak belum mampu membedakan significant dan significate-nya. Pada tahap sensomotorik setiap permainan kanak-kanak merupakan latihan gerak saja. Sedangkan pada tahap praoperasi, permainan merupakan simbolik, yaitu suatu benda dilambangkan oleh benda yang lain. Pada tahap ini, kanak-kanak mampu melakukan “peniruan yang ditunda”, yaitu peniruan yang dilakukan setelah benda atau objek yang ditiru itu sudah tidak ada. Peniruan yang ditunda itu tanpa khadiran benda aslinya, merupakan satu jenis simbolisasi atau bayangan mental (akal). Pada masa simbolisasi inilah kanak-kanak mulai memperoleh bahasa, yakni lambang-lambang ucapan.

3. Tahap operasi konkret (usia 7 – 11 tahun)

Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu melihat atau memahami kelas-kelas yang logis dan hubungan-hubungan yang logis di antara benda-benda termasuk nomor-nomor. Kanak-kanak telah mampu menggolonggkan benda-benda yang serupa dan benda-benda yang berlainan menurut kelas-kelasnya. Misalnya, anak telah memahami bahwa apel termasuk ke dalam kelas atau kelompok bunga. Selain itu, pada tahap ini kanak-kanak juga telah mampu mengatur benda-benda yang sama ukurannya atau beratnya, termasuk pengaturan dan penghitungan nomor-nomor.

4. Tahap operasi formal (usia 12 – dewasa)

Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu berpikir berdasarkan proposisi atau hipotesis; tidak lagi berdasarkan benda-benda konkret seperti tahap sebelumnya. Operasi pemikiran pada tahap ini sudah semakin rumit, dan peranan bahasa dalam pembelajaran dan pemahaman proposisi semakin besar.

PERKEMBANGAN AWAL BAHASA

Sebelum mampu berbicara, umumnya anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara kompleks dan mengandung arti. Misalnya: seorang anak menangis (crying), mendekut (cooing), mengoceh (babling), kemudian ia akan menirukan kata-kata yang didengar dari orang tua (lingkungan sekitarnya). Kemampuan-kemampuan tersebut disebut pre-linguistic speech.

VOKALISASI AWAL

Masa pra-wicara ditandai dengan munculnya vokalisasi awal pada bayi yang terdiri dari empat, yaitu: menangis, mendekut, mengoceh dan meniru suara kata-kata.

Pada dasarnya semenjak lahir, bayi sudah disetel secara biologis untuk berkomunikasi; bayi akan tanggap terhadap setiap kejadian yang ditimbulkan oleh manusia. Selama berbulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mulai mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai sarana komunikasi, anak-anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (prespeech). Keempat prabicara tersebut ialah tangisan; bunyi yang meledak yang segera berkembang menjadi celoteh; isyarat dan ekspresi emosional.

a.      Tangisan

Reaksi pertama dari bayi yang baru lahir adalah tangisan. Sang bayi sama sekali belum mampu sedikit pun mengeluarkan kata-kata, baik yang memiliki arti maupun yang tidak memiliki arti. Mengapa saat pertama kali lahir ke dunia sang bayi menangis dan apa sebenarnya arti tangisan pertama tersebut? Ostwald dan Paltzman (Hurlock, 1989:179) berpendapat bahwa menangis merupakan salah satu cara pertama yang dilakukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luas. Melalui tangisan bayi mencoba memberitahukan kebutuhan dirinya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, seperti rasa lapar, pedih, lelah, serta agar dirinya mendapatkan perhatian.

Saat orang-orang yang berada di sekelilingnya memberikan perhatian dia akan mulai belajar mereaksi, semakin lama si bayi  terbiasa dengan lingkungan barunya. Kemudian pada waktu bayi ditimang-timang oleh keluarganya, terkadang si bayi diajak untuk bercakap-cakap. Hal yang semacam itu cukup positif untuk dilakukan karena si bayi mulai diajarkan mendengarkan bunyi-bunyi yang bermakna yang selanjutnya akan mereka tiru. Miller dan Dollard (Saporta, 1961: 333) menyatakan bahwa anak memiliki insting bawaan untuk meniru dan belajar bahasa lewat jalan peniruan. Mereka juga menyatakan bahwa kemauan meniru menolong anak untuk merangkaikan kata-kata yang dibutuhkannya.

Pada tahap awal stimulus yang diterima oleh bayi tersebut tentu saja bersifat global. Akan tetapi, lewat proses trial and error lama-lama sang bayi akan memperlihatkan perbedaan dalam urutan pengalamannya. Sebagaimana dikatakan oleh Staats (Palermo, 1978: 18), bahwa anak akan memperluas bahasanya dengan jalan menambahkan kata yang dikuasainya pada kata atau gabungan kata yang diucapkannya. Selain itu anak juga akan mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuan yang bersifat nonlinguistic melalui lingkungannya. Pengumpulan informasi tersebut dilakukan melalui panca indera yang kemudian dimanipulasikan dalam wujud bunyi bahasa pada tahun-tahun pertamanya.

b.      Ocehan dan Celotehan

Kedua, celoteh mendorong keinginan berbicara berkomunikasi dengan yang lain. apabila bersama-sama dengan orang-orang yang sedang berbicara satu sama lain, bayi seringkali berceloteh untuk ikut serta dalam percakapan. Ketiga, berceloteh membantu bayi merasakan bahwa dirinya meruakan bagian dari kelompok sosial. Perasaan tersebut diperkuat apabila anggota kelompok sosial berbicara kepadanya atau berceloteh sebagai tanggapan atas celotehannya. Dengan merasakan bahwa ia adalah bagian dari kelompok sosial, bayi akan terhindar dari perasaan terkucil.

Menurut Hurlock (1988: 181) di samping tangisan selama bulan-bulan awal kehidupannya, bayi akan banyak mengeluarkan suara-suara ocehan. Menurut para pakar yang mengkaji masalah ini sedikitnya ada tiga alas an mengapa masa celoteh mengandung nilai jangka panjang dan besar pengaruhnya pada diri anak-anak. Pertama, berceloteh pada dasarnya merupakan praktik verbal yang meletakkan dasar bagi pengembangan gerakan terlatih yang dikehendaki dalam berbicara. Benar bahwa tanpa proses celoteh kelak sang bayi akan belajar berbicara, tetapi celoteh akan mempercepat proses belajar dengan memberikan keterampilan dasar yang diperlukan untuk mengendalikan mekanisme suara bagi keterampilan berbicara selanjutnya yang lebih rumit.

Mowrer (Saporta, Ed., 1961: 333) menyatakan bahwa dalam tahap mengoceh dan celoteh, anak selalu mengulanginya karena bunyi-bunyi itu mirip dengan bunyi yang ia dengar dari ibunya. Dia juga berpendapat bahwa anak membentuk kata dan kalimat yang dibutuhkannya karena ada stimulus. Jadi, dalam proses pemerolehan bahasa, anak-anak akan mempelajari kata, kalimat dan atau gerakan-gerakan untuk menyatakan sesuatu yang dia inginkan atau tidak dia inginkan. Bersamaan dengan itu, anak mulai mengenal makna dan kebermaknaan apa yang dikatakan dan didengarnya.

c.       Isyarat

Komunikasi prabicara ketiga ialah isyarat, yakni gerakan-gerakan anggota badan atau tubuh tertentu yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Sebagai pengganti bicara, isyarat menggantikan keinginan atau gagasan yang ingin disampaikan atau diucapkan bayi kepada orang lain. Tidak seperti berceloteh yang pada dasarnya merupakan bentuk permainan, isyarat memiliki tujuan komunikasi yang serius, seperti halnya tangisan. Sebagian isyarat yang dilakukan oleh bayi sedikit lebih mudah dipahami. Oleh karena itu, kalimat-kalimat awal seorang anak merupakan gabungan antara kata dan isyarat. Kebutuhan akan isyarat mulai berkurang pada waktu kemampuan bicara mereka membaik.

d.      Ungkapan Emosional

Bentuk komunikasi prabicara yang terakhir yakni ungkapan emosional melalui perubahan tubuh dan roman wajah. Emosi anak yang senang akan ditandai oleh suara-suara senang seperti dalam bentuk ocehan, bunyi tawa kecil. Mereka akan mengendurkan badan, melambaikan tangan dan kaki dan menampakkan senyum di wajahnya. Sedangkan emosi yang tidak menyenangkan dirinya antara lain akan ditandai oleh tangisan dan rengekan serta badan yang menegang, kaki dan tangan yang dibanting-bantingkan dan penunjukkan roman wajah yang tegang.

Daftar perkembangan awal bahasa dari lahir sampai usia dua tahun

Usia (bulan) Karakteristik Perkembangan
Lahir Bayi dapat menerima pembicaraan orangtua. Ia menangis untuk membuat respon terhadap suara yang gaduh
1,5 – 3 bulan Bayi mengoceh, tertawa dan berteriak
3 bulan Bayi bermain dengan suara-suara untuk memperoleh rasa senang
5-6 bulan Bayi mampu membuat suara konsonan dan mencoba untuk merespon terhadap suara-suara yang didengarnya
6-10 bulan Bayi mampu mengoceh dengan memadukan suara konsonan dan vokal
9 bulan Menggunakan gerik-gerik isyarat (gestur) untuk berkomunikasi dan bermain dengan gestur.
10-12 bulan Bayi mulai memahami kata-kata (seperti kata tidak dan nama sendiri) serta mampu meniru kata-kata
9-10 bulan Bayi mampu menggunakan beberapa isyarat sosial yang dapat dimengerti oleh lingkungan sosialnya.
10-14 bulan Anak mampu mengatakan kata-kata pertama dan meniru suara orang lain
10-18 bulan Anak dapat mengatakan kata-kata tunggal
13 bulan Anak mampu memahami fungsi simbolik dari nama,serta dapat menggunakan isyarat yang diperluas
14 bulan Anak mampu memahami dan menggunakan isyarat secara simbolik
16-24 bulan Anak mampu membuat kalimat dua kata
20 bulan Anak mampu mempelajari kata-kata dan memperluas perbendaharaan kata secara cepat dari 50 kata menjadi 400 kata. Anak mampu menggunakan kata-kata benda dan kata sifat.
20-22 bulan Anak mampu menggunakan beberapa isyarat atau nama. Nama mempunyai arti bagi dirinya
24 bulan Anak mempunyai dorongan untuk berkata-kata secara tiba-tiba dan cenderung mampu membuat beberapa kata

KESIMPULAN

            Dalam pembelajaran bahasa, seorang anak terlebih dahulu akan memahami bahasa sebelum mengeluarkan bahasa. Dalam artian bahwa, seorang bayi tidak dapat mengucapkan suatu kata secara berarti sebelum mereka mampu mendengar dan memahami kata dari penutur lain. Komunikasi pada bayi berbeda dengan komunikasi pada anak yang telah menginjak dewasa. Komunikasi pada bayi dikenal dengan nama wicara karena wicara merupakan kontinum bunyi bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Sedangkan prawicara memiliki arti tahap dimana seorang bayi sebelum adanya kontinum bunyi bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Perkembangan bahasa pada anak dipengaruhi oleh perkembangan kognitif setiap anak, walaupun setiap anak memiliki kemampuan alami yang berbeda-beda dalam memperoleh dan mengembangkan kemampuan berbahasa. Ada beberapa tahap dalam perkembangan kognitif anak dalam pandangan Piaget. Tahapan tersebut saling berkorelasi dan semakin cangih seiring pertambahan usia. Tahapan-tahapan tersebut adalah: tahap sensorimotorik (0-2 tahun) ), tahap praoperasional (2 – 7 tahun), tahap operasi konkret ( 7- 11 tahun), dan tahap operasi formal (12 tahun – dewasa). Tahap perkembangan prawicara pada anak berlangsung sejalan dengan perkembangan kognitif pada tahap sensomotorik.

Sebelum mampu berbicara, umumnya anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara kompleks dan mengandung arti. Misalnya: seorang anak menangis (crying), mendekut (cooing), mengoceh (babling), kemudian ia akan menirukan kata-kata yang didengar. Kemampuan-kemampuan tersebut disebut pre-linguistic speech. Pada masa ini bayi akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara untuk berkomunikasi yaitu tangisan, bunyi yang meledak yang segera berkembang menjadi celoteh, isyarat, dan ekspresi emosional.

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta. Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Goodluck, Helen. 1993. Language Acquaisition: A Linguistic Introduction. Cambridge: Cambridge University Press.

Steinberg, Danny D. 1982. Psycholinguistic: Laguage, Mind, and World. London: Longman

Yudibrata, Karna dkk. 1998. Psikolinguistik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudaaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s