Jogja Macet lalu Kenapa ?? (:

scenery

Pagi hari ketika jam- jam kuliah akan dimulai sekitar pukul 7 pagi sudah bisa dipastikan beberapa ruas jalan di Yogyakarta pasti macet. Hal itu tampaknya sudah merupakan rahasia publik. Begitu pun hari ini, kuliah mulai pukul 07.30 sedangkan saya berangkat dari wisma sekitar 10 menit sebelumnya dan alhasil saya pun terjebak macet.

Yah..sedikit cerita tentang hari ini, baru saja mau mengeluarkan motor dari wisma, teman sewisma saya minta bantuan untuk mengantarkan sampai kampus kesehatan UGM, padahal saat itu saya baru terburu- buru waktu. Mungkin karena orang Solo jadi rasa tidak enak hati untuk menolak pun muncul. Mencoba menenangkan diri dengan prasangka yang bukan- bukan bahwa nanti dosen akan terlambat datang, saya pun mengembangkan senyum yang menyungging di wajah yang tertutup dengan masker berwarna merah marun, sambil mengendarai motor dan memboncengkan teman saya ke tempat dia minta antar. Setelah teman saya turun, buru- buru saya balik arah ke kampus pasca dan ternyata…..bisa ditebak sendiri, saya terjebak macet di daerah Jakal, Subhanallah. Macet oh macet…keadaan yang sangat saya benci. Melihat banyak kendaraan berjejer tak beraturan dan penuh sesak. Kalau dalam keadaan yang macet luar biasa seperti ini, rasa- rasanya saya ingin marah, tetapi tidak tahu mau marah sama siapa ataukah mau marah sama diri sendiri karena last minute in going.. =_=

Hal ini mungkin akan tambah seperti nightmare ketika harus menghadapi kenyataan bahwa saya harus terjebak dalam beberapa lampu merah berturut- turut saking banyaknya kendaraan, lebih- lebih mobil- mobil yang berserakan dimana- mana yang menambah macet karena memakan banyak ruas jalan. Hiiiii…geleng- geleng kepala kalau hal ini bakal terjadi. Singkat cerita, hari ini saya terlambat kembali setelah dengan perjuangan menerobos kemacetan dan naik ke lantai tiga dengan ngos- ngosan.

Dari cerita saya di atas sudah bisa dipastikan bahwa kemacetan melanda kota Gudeg ini setiap harinya. Waktu 10 menit tidak cukup untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain walau hanya berjarak sekitar 2 km. Mau tidak mau, suka tidak suka, siapa pun yang tinggal di sini pasti harus mengahadapi macet, begitu juga saya. Dalam kasus ini saya bisa saja menyalahkan pengendara mobil yang terlalu banyak memakan lebar jalan, teman saya yang numpang tadi, ataupun setiap hal yang ada di cerita itu, tetapi sebenarnya yang perlu diingat adalah dari skenario di atas yang menjadi tokoh utamanya adalh saya. Yang memiliki cerita di atas adalah saya. Yang nantinya akan mendapatkan akibat juga saya. Ini dapat disimpulkan dari premis- premis di atas adalah yang salah adalah saya sendiri. Coba saja kalau tadi saya bisa berangkat kuliah 30 menit sebelumnya, coba saja jika tadi saya bisa mempersiapkan segala hal untuk kuliah beberapa jam sebelumnya, pasti saya tidak akan terlambat bukan?

Yaa…memang benar sebelum kita menyalahkan keadaan sekitar sebaiknya kita bercermin di depan cermin terlebih dahulu.. (: #senyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s