Mencintai dalam Diam

flowers

Mencintai dalam diam adalah situasi terhormat. Jadi rahasia di pojok hati paling dalam, tidak ada orang yang tahu. Tidak merusak diri, tidak melanggar kaidah agama.

Salah satu kutipan yang saya ambil dari Tere Liye di fans page sosial media. Beberapa kata yang mungkin mewakili hati setiap orang yang memiliki rahasia hati yang paling dalam. Memang sebenarnya sudah fitrohnya manusia untuk memiliki rasa suka dengan lawan jenis, apalagi untuk seorang remaja maupun seseorang yang menginjak usia dewasa seperti saya. Dengan semakin banyaknya undangan pernikahan dari teman- teman kampus, membuat hati semakin galau. Mungkin ketika kita masih berada pada fase sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama dan lanjutan, hal yang mengenai urusan menikah terdengar masih terasa tabu oleh anak- anak yang baru bau kencur seperti saya pada waktu jaman itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, hal- hal yang berbau demikian ini rasanya sering bergaung di depan telinga kita, entah itu dari nasehat mengenai bagaimana memilih jodoh dari orang tua atau pun pembicaraan iseng yang mengandung kegalauan dari teman- teman. Hal- hal semacam itu sepertinya sudah menjadi trending topic pembicaraan yang sering dibahas, sehingga sudah bukan menjadi hal yang jarang lagi untuk seseorang melontarkan pertanyaan “Kapan rencana mau menikah?”. Pertanyaan inilah yang kurang enak didengar ketika kita saja belum tahu siapa bakal calon jodoh kita, ketemu aja belum mana mungkin kita tahu kapan kita akan menikah dan senyum kecil pun mengembang mengiringi jawaban singkat dari dalam hati. Yah, itu memang kisah nyata yang sering saya sendiri alami. Pertanyaan ini saya rasakan mulai mencuat ketika sudah mau menamatkan kuliah, meski sampai sekang pun ketika saya meneruskan kuliah S2, pertanyaan ini belum berhenti terlontar oleh orang- orang sekitar, entah dari teman dekat, teman jauh, maupun orang- orang yang kadang baru kenal. Pendapat sebagian mereka karena sudah di tingkat S2 maka pastinya sebenarnya sudah ada kesiapan mental untuk menikah. Dengan kata lain umur sudah matang. Mungkin bisa dibilang seperti itu, ketika umur menginjak 22 th maka sudah harus mempersiapkan diri untuk memasuki fase pernikahan. Kalau mendengar pertanyaan seperti ini, maka saya hanya akan menjawab “nanti suatu saat ketika Allah Ta’ala sudah menghadirkan jodoh kita dalam sosok yang nyata dan pasti”, meski sebenarnya jodoh kita memang sudah ada di dalam lauhul mahfudz, tetapi kalau kita saja belum menemukannya maka ya bersabar saja (ini yang sering menjadi jawaban saya yang juga teriringi gumaman jawaban dalam hati, tentunya sambil pasang wajah senyum ^__^).

Pada dasarnya menunggu memang sebenarnya bukan hal yang menyenangkan, tetapi hal itu bisa menjadi hal yang menyenangkan ketika kita berusaha menepis kegundahan itu dengan menyibukkan diri dengan kebaikan- kebaikan yang ada di sekitar kita. Dengan menyibukkan diri dengan memperbaiki diri tentunya. “Something interesting will come to us” ketika ternyata jodoh kita itu juga berusaha memperbaiki dirinya pula untuk mempersiapkan pertemuannya dengan kita.

(Untuk selanjutnya ada yang menarik yang saya cuplik dari artikel muslimah.or.id) >> Syaikh ‘Abdurrazaaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah memiliki resep jitu yang beliau kumpulkan dari petunjuk Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga kondisi keimanan kita. Beliau menjelaskan sebab-sebab yang dapat meningkatkan iman di antaranya5:

  1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama yang diambil dari kitabullah dan sunnah rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa dengan membaca Al Qur-an dan mentadabburinya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala, merenungi perjalanan hidup nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, merenungi ajaran-ajaran luhur agama ini, membaca perjalanan hidup salaful ummah, dan lain sebagainya. Namun ilmu itu sendiri bukanlah tujuan, melainkan sarana agar dapat diamalkan dalam bentuk beribadah kepada Allah Ta’ala, bukan untuk tujuan lainnya.
  2. Merenungi ayat–ayat kauniyah Allah yang ada pada makhluk-Nya
  3. Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih serta memurnikannya untuk mengharap wajah Allah semata, baik berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan.

(Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi, ‘Abdurrazaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr, cet. II, Maktabah Dar Al-Manhaj, th. 1431 H)
Adapun sebab-sebab yang dapat mengurangi iman dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor dari dalam berupa kebodohan, lalai, berpaling dan lupa, mengerjakan maksiat dan berbuat dosa, serta nafsu yang menyeru pada keburukan. Sedangkan sebab dari luar berupa syaitan, dunia dan fitnahnya, serta teman-teman yang buruk.

2 thoughts on “Mencintai dalam Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s