Just wanna forget this

123

 

Hidup adalah perjalanan waktu dari setiap individu yang ada di muka bumi. Setiap individu itu pun akan selalu memperbaharui rencana hidup mereka setiap waktunya. Seperti halnya hari ini, mencoba mengolah kembali serpihan- serpihan kegalauan yang masih disisakan setelah beberapa bulan lalu menggalau menunggu pengumuman beasiswa dikti, aku dengan kedua temanku memberankan diri untuk menemui pegawai administrasi di kampus pascasarjana kami untuk menyakan kejelasan. Kejelasan tentang sesuatu hal yang tidak jelas sama sekali dari pihak kampus ini. Setelah sekian waktu menanyakan ini itu yang Alhamdulillah ditanggapi ramah meskipun kami pun harus keluar ruang administrasi itu dengan masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab, kami selanjutnya memberanikan diri menemui direktur pascasarjana di ruangnya dengan keyakinan bahwa direktur nanti akan memberi pencerahan mengenai kelanjutan info pengumuman di website dikti tentang penstatusan kelolosan kami di beasiswa tersebut. Yah…kenapa kita bisa dengan seberaninya seperti itu masuk di ruang yang ternyata ibarat kandang singa, mungkin juga karena kami yakin bahwa orang yang berada di kantor itu adalah orang yang baik dan ramah yang akan memberikan penjelasan berbagai pertanyaan kami yang banyak di awang-awang pikiran, meski ternyata kekecawaan yang dalam malah kami bawa keluar dari kantor itu. Mungkin bisa diibaratkan “masuk dan sulit untuk keluar”, itu kata- kata yang mudah untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Sang pemilik ruang kantor tersebut marah- marah dengan model pembungkusan kata- kata yang pedas (mungkin lebih pedas dari cabe rawit) ditambahi dengan nada suara yang sinis tanda tidak mau menerima semua penjelasan dan pertanyaan kritis yang kami ajukan membuat aku seolah- olah menjadi patung yang duduk di kursi dalam ruang yang telah menjadi awan panas yang seolah- olah bisa mengucurkan butiran- butiran keringat dingin, dan bisa membuat orang ingin pingsan dan kemudian ketika dibangunkan, ternyata hal ini dianggap menjadi sebuah bagian dari mimpi yang tidak pernah terjadi. Pikiran yang ada di pikiran seseorang yang kecewa akan pelayanan universitas yang katanya akan selalu memberikan keramahan pada mahasiswanya. Akan tetapi, dengan kejadian  hari ini, semboyan itu langsung runtuh menurutku. Jawaban- jawaban gertakan yang malah tidak menunjukkan karakter Jawa telah keluar dari mulut seorang pejabat tinggi di pascasarjana ini. Kecewa, pastinya yang kini kami rasa. Sakit hati, pastinya juga. Yang jelas sekarng penulis yang sedang dalam bad mood  ingin makan banyak coklat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s