Mengukir Sejarah dengan Menulis

pencils

 

Pramoedya A.T. berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak menulis maka ia akan hilang dari sejarah”.

Salah satu dari beribu-ribu kalimat yang masuk dalam panca indra saya dan bisa menyemangati untuk menulis beberapa patah kata di atas kertas, seperti yang saya lakukan saat ini. Saya bukanlah orang yang luar biasa dengan berbagai hal yang luar biasa tetapi saya hanyalah orang biasa yang berusaha melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Saya pikir bahwa menulis tidak harus dilakukan oleh orang yang luar biasa, tetapi orang yang dipandang biasa pun bisa menghasilkan suatu karya yang luar biasa. Berawal dari suka jadi mencintai. Itulah yang saya alami saat menulis. Dengan beberapa prestasi yang biasa tentang menulis mengenai karya ilmiah pada saat sekolah mengawali niat saya untuk meneruskan kegemaran saya menulis di jenjang perguruan tinggi, sehingga bisa mengantarkan saya pada pengalaman-pengalaman yang cukup mengesankan.

Rolef Emreson pernah berkata, “Kita ini merupakan tawanan pemikiran”. Apa yang kita pikirkan maka biasanya akan terealisasi dalam kehidupan nyata. Jika kita berpikir bisa, maka kita juga akan bisa, tapi jika tidak maka itu yang akan terjadi. Semuanya terjadi sesuai dengan harapan. Maka, awali sesuatu hal dengan niat baik, begitu pun saat mengawali niat menulis maka katakan bisa pada diri Anda sendiri, karena sesungguhnya setiap tulisan yang kita ukir di atas kertas, walau mungkin hanya terbilang coretan-coretan biasa, sebenarnya itu merupakan karya yang luar biasa dari pemikiran kita dan pastinya ilham yang luar biasa dari sang Pencipta, Allah Ta’ala.

chalk

Setiap tulisan yang kita tulis pasti memiliki tujuan seperti halnya hidup kita yang memiliki tujuan, dimana tujuan yang paling dasar dari hidup kita adalah beribadah kepada Rabb kita. Hidup ibarat sebuah kapal, kemana arah kapal akan berujung, yang akan mengendalikan adalah nahkodanya yaitu kita. Charles Gibney pernah berkata,”Jika Anda hidup tanpa tujuan maka hidup yang Anda lalui akan selalu berpindah dari satu masalah ke permasalahan yang lain, bukan perpindahan dari satu kesempatan ke kesempatan lain”. Bukan pula Thomas Clare dalam dongeng “Negeri Ajaib” mampu menjawab kebingungan yang bergelantung di pikiran sang pangeran? Ia mengatakan “Hidup tanpa tujuan bagaikan sampan yang tidak memiliki pendayung. Jika demikian, maka perjalanan Anda akan berujung pada kesusahan”. Hal itu seperti yang telah dinukil oleh Dr. Ibrahim Fiqy.

Lalu pertanyaan selanjutnya, jika tujuan merupakan hal yang penting mengapa kebanyakan orang tidak mau menentukan tujuan hidupnya? Kemudian menuliskanya dalam selembar kertas, membuatnya menjadi suatu buku. Suatu karya yang akan bisa mengenang dirinya sendiri dalam sejarah. Lalu mengapa harus takut untuk menulis? Yang seharusnya kita takutkan bahwa pikiran-pikiran kita yang cemerlang tidak akan ada artinya jika tidak dituliskan dan tidak akan berguna jika jika tidak pula dibaca oleh orang lain. Dari beberapa pengalaman saya maupun kebanyakan cerita dari teman di Lembaga Pers Mahasiswa yang masih saya ikuti, saya akan mencoba menuliskan penyebab-penyebabnya.

Pertama, Takut dan Cemas

Rasa takut dan cemas merupakan musuh yang paling besar. Jika kedua unsur itu bersatu maka akan membuat sesorang akan susah untuk berpikir dan konsentrasi. Padahal kedua hal tersebut yang melatarbelakangi kita untuk menulis. Sebagian orang takut untuk gagal menghadapi masa depan, takut jika apa yang ditulisnya salah, takut dikritik orang lain bahkan ada yang takut untuk sukses. Takut memang sebuah sifat yang lahir dari pengalaman mengecewakan seseorang. Orang tersebut terlalu memikirkan kegagalan yang a alami sehingga berdampak negatif pada diri sendiri. Kegagalan yang telah berlalu yang membuat takut kegagalan-kegagalan berikutnya. Hal tersebut membuat seseorang takut untuk mencoba untuk kedua kalinya agar ia terhindar dari perasaan menyakitkan yang pernah alami. Padahal sebenarnya orang yang takut adalah orang yang berada pada ruang yang dpenuhi rasa was-was, ragu-ragu dan tidak peraya diri.

Oleh sebab itu, hal yang sebaiknya dilakukan adalah membuang rasa takut itu dengan segera mengambil kertas dan menuliskannya beberapa hal yang ada di pikiran kita yang mungkin akan sangat menanjubkan jika dituliskan nanti. Jika tulisan kita dikritik orang lain, maka bahagialah karena sebenarnya orang tersebut perhatian dengan kita dan menginginkan kita menjadi insan yang lebih baik sehingga mampu menciptakan karya yang lebih luar biasa.

Kedua, Berprasangka Buruk pada Diri Sendiri

Orang yang meragukan dirinya sendiri akan memicu kegagalan pada dirinya. Ia akan berparadigma bahwa ia akan gagal akan sesuatu. Jika suatu saat dia berhasiL akan suatu hal, ia akan berkata bahwa itu adalah kebetulan. Padahal sesuatu itu terjadi dan tercipta bukanlah suatu kebetulan. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan jin bukan suatu kebetulan tetapi untuk berubadah kepada-Nya. Begitu pula, jika saat ini kita saat ini kita bisa bertemu, itu bukan suatu kebetulan. Seperti yang telah dikatakan oleh Harun Yahya bahwa seuatu hal yang ada d dunia ini ada bukanlah suatu hal yang kebetulan.

Orang yang meragukan kemampuan diri akan berpikir bahwa kesuksesan hanya dperuntukkan untuk orang lain, bukan baginya. Sehingga orang seperti ini akan lesu dalam menghadapi hidup. Thomas Alfa Edison mengatakan bahwa kebanyakan orang yang gagal adalah mereka ynga takut untuk melangkah dan menanggung resiko. Jika, kita adalah orang yang ingin menikmati hidup dengan penuh semangat, dan selalu bersinergi dengan diri sendiri, maka kita harus menghilangkan anggapan bahwa kita tidak bisa, teteapi yakinkan diri bahwa kita bisa. Yang penting adalah kita sudah berusaha sebaik-baiknya, untuk hasilnya Allah Ta’ala lah yang lebih menetahui apa yang terbaik untuk diri kita. Lakukan dengan rasa bahagia karena kebahagian akan apa yang kita lakukan sekarang akan melahirkan kebahagia-kebahagiaan selanjutnya pada diri kita, dan akan melahirkan kesuksesan diri.

Dari menulis kita bisa mengukir sejarah hidup kita. Jika gajah mati meninggalkan gading, jika manusia meninggal akan meninggalkan karya yang bermanfaat untuk orang lain sehingga karya itu dapat menjadi suatu amal jariyah untuk kita. Jika tulisan kita bermanfaat bagi orang lain, maka amal jariyah pun bisa kita dapat karena pengetahuan kita bisa dibagikan kepada orang lain dan bermanfaat. Jadi jangan menunggu nanti untuk menghasilkan sutu karya, lakukan saat ini dan hari ini. Tetap semangat untuk kita semua. Semoga bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s