Bahagia itu Sesederhana Menulis Angka 1 di Selembar Kertas

26-HMI_belajar_menulis

Bahagia itu sederhana, saking sederhananya saya ibaratkan seperti menulis angka 1 di selembar kertas. Kenapa bisa? Ya, karena dengan mudahnya anak kecil pun bisa menuliskan angka 1 di selembar kertas. Hal mudah itu bisa kita samakan dengan menulis kebahagian di hidup kita. Pada dasarnya kebahagiaan itu memang punya makna yang berbeda dari satu orang dengan orang yang lain. Kita dengan mudahnya bisa merasakan bahagia ketika melihat orang tua kita tersenyum. Kita pun bisa tersenyum bahagia ketika kita bisa berbagi dengan sesama walaupun hanya dengan secuil roti yang kita berikan kepada yang membutuhkan.

Well, mengapa bahagia bisa diibaratkan menulis angka 1 di selembar kertas? karena taukah kalian bahwa sebenarnya untuk mereka yang masih balita, mereka akan melakukan usaha hanya untuk menulis angka satu. Mungkin untuk kita yang sudah dewasa, hal itu kita anggap sangat mudah, tapi untuk mereka hal itu tidaklah mudah. Balita- balita itu harus mulai menghafal “angka satu” itu sendiri, dimana “angka satu” tergambarkan dengan “tongkat yang ditegakkan berdiri lurus”. Itulah first effort yang akan dilakukan mereka untuk memahami angka tersebut sebelum mencoba menuliskannya di atas selembar kertas dengan antusiasnya.

Belajar menulis angka ini pun pernah dilakukan keponakan saya sendiri yang masih balita. Pada awal dia belajar, tampaknya sudah membuatnya heran (mungkin, itu sih pandangan personalku sendiri). Mengapa saya bisa berkata demikian, karena tampak di raut mukanya yang dia ekspresikan. Dengan beberapa saat dia belajar, akhirnya dia bisa menulis dengan lancarnya angka satu yang seperti tongkat meliuk-liuk. Yah, namanya juga anak-anak, meski dia belum bisa lurus menulis angka itu tapi itu sudah bisa membuatnya bahagia.

Nah, ini tentu beda konteksnya dengan seseorang yang sudah dewasa. Orang yang notabene sudah besar, dia akan kehilangan rasa bahagia ketika menuliskan angka satu, karena itu mereka anggap sudah biasa. Alasan inilah yang biasnya membuat seseorang kehilangan rasa bahagianya. Tentunya bukan masalah “menulis angka satu” secara eksplisit tapi coba kita renungkan secara implisit.

Kita setiap detik bisa bernafas– menghirup O2 dengan bebasnya. Setiap hari pun kita bisa berjalan dan menggerakkan anggota badan yang lainnya dengan mudahnya, tetapi apakah kita sudah bahagia dengan itu semua. Kemudian apakah kita sudah bersyukur akan itu?

Pastinya jawabannya sudah ada di benak kita masing-masing..🙂

So, sebenarnya bahagia itu mudah kan? dengan dimulai dari diri kita dengan mensyukuri nikmat yang selalu Rabb kita berikan. Lalu kita bisa membagi kebahagiaan itu ke orang- orang sekitar kita.

Let’s be happy…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s